Oleh: darmawanachmad | 27 Februari 2010

PPRODUCT DERIVATIVE

MENSIASATI “KERUGIAN INVESTASI MELALUI PASAR DERIVATIVE”
Darmawan Achmad

Abstract
The deregulation of financial markets has created new investment opportunity, which in turn require the development of new instrument to deal with the increased risk. Institutional investors who are actively engaged in emerging market need to hedge their risks from these cross-border transactions. Agent economic in liberal market who are exposed to change commodity price and interest rate changes require appropriate hedging product to protecting the financial risk them. The instruments that allow market participants to manage risk are known as derivatives product, because they represent contracts whose the end value determined by the price of underlying asset. such as currency, an interest rate, a commodity or a stock. Derivative product traded in organized exchanges or over the counter by derivative dealers.
Keywords: : Derivative Exchange, Forward, Futures, Option and Swap.

Latar belakang.
Kelumpuhan system moneter Bretton Woods awal tahun 70 an telah memacu pergerakan nilai tukar, suku bunga dan harga komiditas yang sangat dramatis. Seba gian besar nilai tukar, baik secara nominal maupun riel mengalami fluktuasi tak karuan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan fundamental ekonomi negara industri maju.
Difisit dalam neraca pembayaran Amerika Serikat mendorong merebaknya spekulasi terhadap US dollar, dan mengalirnya arus kas keluar dalam jumlah besar telah mengatrol tingkat inflasi di belahan negara lain (Salvatore; 1996). Ketidakstabilan yang dipicu oleh volitaliti kurs mata uang domestik terhadap uang asing mengacaukan fleksibilitas dan mekanisme perdagangan internasional yang berimplikasi langsung terhadap perubahan dalam harga komoditas.
Terlepasnya system kurs valas yang dikaitkan dengan standars emas justru memperparah gejolak kurs mata uang di belbagai negara, yang pada akhirnya amat sangat dirasakan oleh kalangan usahawan, pemerintah dan masyarakat. Perubahan dalam suku bunga dan harga komoditas tersebut ternyata tidak serta merta mampu dikendalikan oleh penerapan kebijakan moneter yang bersifat kontraksioner.
Tekanan biaya keuangan ini tidak hanya berdampak terhadap beban sector swasta, tetapi juga ikut mempengaruhi kemampuan meraih laba usaha sekaligus memperberat kelangsungan hidup perusahaan (Bodie; 1996). Perubahan dalam kurs mata uang akan mempersulit daya kompetisi dengan negara-negara lain, kenaikan dalam harga komoditas mengakibatkan perubahan pada biaya input dan perubahan pada tingkat suku bunga akan menambah kesulitan keuangan perusahaan sebagai dampak dari peningkatan beban biaya utang. Kondisi penerimaan pemerintah juga tidak luput dari pengaruh perubahan tersebut, terutama bagi negara berkembang, dimana penurunan dalam nilai ekspor akan memperburuk pendapatan yang diperoleh pihak swasta yang pada akhirnya ikut mempengaruhi tingkat penerimaan negara yang berasal dari pajak. Lebih dari itu, lembaga atau perusahaan yang terikat dengan hutang pihak luar negeri akan menuntut tingkat bunga yang lebih berat karena komposisi jumlah pinjaman tidak sebanding dengan barang yang mereka ekspor.
Sejak akhir tahun 80an dan awal 90an pasar uang menjawab kondisi turbulen ini melalui instrumen pengelolaan resiko perubahan harga dengan pasar derivative, yaitu suatu kontrak dimana penilaian atas investasi dalam suatu asset induknya akan diperhitungkan pada saat jatuh tempo (mata uang, tingkat bunga, komoditas, dan indeks pasar bursa). Bentuk derivative yang paling populer saat itu adalah pengaturan tukar menukar divisa (Swap arrangement). Kendati demikian kontrak derivative pasar futures untuk gandum yang ditangani oleh Dewan Perniagaan Chicago (CBOT) telah pernah terjadi pada tahun 1859, derivative Emas pada tahun 1878 di bursa logam London. kontrak mata uang pada akhir 1968, derivative suku bunga tahun 1971. dan kontrak index bursa saham tahun 1978.(Tsetsekos, 2000)
Konon petani memiliki kepentingan dengan harga yang akan mereka terima dari hasil penjualan gandum dimusim gugur, dan para pemilik penggilingan memiliki kepentingan dengan harga yang harus mereka bayarkan (Brigham 2004). Resiko yang mereka hadapi dapat dikurangi manakala telah menyepakati suatu harga pada awal periode kontrak. Pemilik penggilingan akan memantau ke ladang gandum dan menyepakati kontrak dengan para petani yang mewajibkan mereka mengirimkan butir gandum pada harga yang telah ditentukan sebelumnya. Transaksi model ini membuka peluang bagi kedua belah pihak untuk memperoleh keuntungan karena terkendalinya risiko yang mereka hadapi. Disatu sisi para petani dapat lebih berkonsentrasi dalam perawatan tanamannya tanpa harus mengkhawatirkan tentang harga dimasa depan. Sebaliknya para pemilik penggilingan akan lebih fokus pada operasi pabriknya, dengan demikian kedua belah pihak dapat meningkatkan efisiensi kerja sekaligus menurunkan biaya operasi melalui proses lindung nilai. Dengan kata lain lindung nilai melalui kontrak futures mampu menurunkan risiko agregat dalam perekonomian.
Rangkaian peristiwa ini telah merabak munculnya pihak perantara, dealer & spekulan guna membantu menstabilisasi pasar dalammenangani perdagangan transaksi futures. Perlu diingat bahwa dalam kontrak futures perubahan sekecil apapun pada nilai aktiva yang menjadi induk investasi, akan mengakibatkan terjadinya perubahan besar pada harga kontrak derivative itu sendiri. Perubahan yang demikian bukan serta merta akibat dari kehadiran lembaga spekulan dan para hedgers, karena kenyataannya tidak menunjukkan hal seperti itu. Spekulan justru mendatangkan tambahan aliran modal dari pemain baru kedalam pasar, sehingga akan cendrung menstabilkan harga. Pada umumnya pasar derivative secara inheren adalah pasar yang tidak stabil, akan tetapi karena terlibatnya para spekulan yang ikut menanggung risiko cukup tinggi telah mendorong pasar derivative menjadi lebih stabil bagi pelaku lindung nilai.
Lindung nilai alami (Natural hedges) merupakan suatu situasi dimana risiko agregat akan dapat dikurangi oleh transaksi derivative terhadap harga komoditas, kurs valas dan suku bunga dengan waktu jatuh tempo yang berbeda. Lindung nilai alami acapkali terjadi ketika futures diperdagangkan antara petani kapas dengan pabrik pemintal benang. penambang tembaga dengan pabrik tembaga, importir dengan perusahaan manufaktur luar negeri dalam konteks kurs valas, perusahaan listrik dan penambang batubara, produsen minyak dengan pengguna minyak. Dengan demikian lindung nilai mampu menurunkan risiko agregat yang implikasinya akan memberikan manfaat pada perkembangan ekonomi (Keown; 1996).
Lindung risiko dapat juga dilakukan terhadap situasi dimana tidak terdapat lindung nilai alami. Lembaga yang menangani kondisi demikian ketika satu pihak ingin mengurangi suatu jenis risiko, dan pihak lain setuju untuk menjual suatu kontrak yang melindungi pihak pertama dari situasi tertentu. Namun perlu dicatat bahwa dalam lindung nilai non simetris ini, risiko pada dasarnya hanya dipindahkan bukan dihilangkan. Pendekatan model ini merupakan ladang usaha perusahaan asuransi dengan menanggulangi jenis risiko tersebut melalui strategi diversifikasi.
Sejak akhir 1980an pasar derivative telah berkembang lebih cepat dibandingkan pasar primer lainnya. Pelopornya antara lain karena perkembangan teknik analisis Model Penetapan Harga Opsi Black-Scholes, komunikasi elektronik yang menjadikan kedua belah pihak lebih mudah melakukan transaksi, serta dampak globalisasi aliran dana antar negara. Variable tersebut dengan sangat dominan telah menempatkan posisi bursa derivatif untuk kepentingan mengurangi risiko nilai tukar yang terbawa oleh arus perdagangan global semakin penting peranannya. Tren perkembangan ini sudah dapat dipastikan akan terus berlanjut, kendati jumlah pemain dalam bursa derivatif belum mengalami peningkatan yang signifikan, paling tidak minat menggunakan instrumen ini untuk kepentingan manajemen risiko akan terus bertambah.
Hal lain yang perlu diketahui bahwa derivative memiliki potensi untuk merugi, karena kesalahan perhitungan kecil sekalipun dapat menyebabkan terjadinya kerugian yang besar.Perhitungannya memang agak sedikit rumit sehingga tidak mudah dipahami oleh kebanyakan investor, konsekwensinya dapat menyebabkan terjadinya kesalahan yang lebih besar dibandingkan dengan investasi dalam intrumen yang tidak begitu kompleks seperti Obligasi dan Reksadana.
Apabila investasi dalam Reksadana beroperasi melalui bantuan bank kustodian, maka transaksi derivative ditangani oleh pialang bursa terorganisir dan diluar bursa, (over the counter) dimana pola operasional dilakukan dengan menghubungkan investor dengan suatu pasar bursa melalui sistem perdagangan elektronik. Masing masing pihak yang memiliki minat untuk membeli/menjual produk yang fluktuatif dalam harga, disediakan forum untuk mengalihkan resiko perubahan harga kepada pihak lain melalui suatu kesepakatan.Jadi peran utama bursa derivative selain akan memudahkan perpindahan resiko antar agen ekonomi melalui mekanisme penawaran, menjaga tingkat kestabilan likwiditas juga menciptakan proses pembentukan harga wajar.
Likwiditas mengacu pada kemampuan membeli/menjual volume besar dari suatu kontrak dalam jangka waktu relatif pendek, tanpa harus merubah kesepakatan harga. Dalam transaksi ini ikut terjadi transfer risiko secara efisien, karena tersedia sejumlah agen yang siap untuk membeli/menjual aktiva tertentu pada tingkat harga berapapun dimasa datang. (tersedia agen yang mau mengalihkan resiko dan agen yang ingin menerima resiko).
Fobozzi (1995) menyimpulkan bahwa pemindahan resiko yang efisien antar pelaku pasar terjadi karena :
a) adanya dukungan arus informasi yang efisien,
b) pengaturan sistem perdagangan yang transparan,
c) alokasi sumber daya yang kompeten dan efisien,
d) prosedur penyelesaian yang dijamin oleh lembaga kliring,
e) teknologi informasi elektronik.
Sedangkan proses pembentukan harga mengacu pada prosedur terciptanya nilai wajar dari suatu asset tertentu baik melalui sistem penawaran dan permintaan maupun atas dasar informasi media yang beredar di bursa berjangka, sehingga jika pada saat yang sama,ada pihak lain diluar bursa yang ingin bertransaksi terhadap suatu aktiva, refleksi pergulatan harga penawaran dan permintaan pasar berjangka dapat dijadikan sebagai acuan dalam menentukan harga wajar dari asset yang mereka miliki. Fenomena ini tentu saja akan mengundang investor lain untuk ikut terlibat, yang pada akhirnya akan medongkrak volume transaksi dan mendukung tercipta pasar yang efisien.
Bursa derivative yang telah berfungsi secara baik, memiliki tugas mempertemukan pihak hedger yang ingin melindungi nilai aktivanya dari resiko kerugian dengan pihak speculator yang bersedia menanggung resiko kemesotan nilai aktiva, sebab untuk tugas itu mereka dibayar. Pembayarannya dapat dalam bentuk premi maupun dalam jenis keuntungan lainnya.
Mengacu pada definisi, bahwa kontrak derivative merupakan suatu pertukaran yang telah terstandardisasi; sehingga tercipta jaminan keamanan dalam transaksi antar pelaku pasar. Dalam aktivitas harian biasanya Investor bertindak sebagai pembeli dari semua penjual dan penjual akan berperan sebagai pelayan dari semua pembeli. Dengan ketentuan bahwa para pembeli & penjual harus mendepositokan dana dalam jumlah tertentu (margin) sebagai jaminan keamanan transaksi, dan nilainya akan terus disesuaikan mengikuti pergerakan harga pasar secara harian. artinya bahwa margin dalam bentuk deposito tersebut senatiasa akan dihitung ulang guna menetapkan besarnya kewajiban tambahan apabila terjadi fluktuasi harga pasar. Margin ini tidak sama dengan uang muka (downpayment) dalam pembelian aktiva tertentu yang kelak diserahkan pada saat jatuh tempo kontrak (Siahaan, 2006).
Dalam negara yang ekonominya baru berkembang, harga pasar suatu aktiva acapkali sulit ditentukan.Namun bursa derivative memegang peran penting dalam pembentukan harga yang efisien pada pasar tunai melalui penyediaan informasi yang transparan baik untuk masa sekarang maupun untuk masa akan datang. Sebagai contoh, pada umumnya harga pasar suatu komoditas diproyeksikan untuk kepentingan masa depan, alasannya bahwa pasar telah menyiapkan prosedur penetapan harga melalui informasi yang sempurna untuk produk tertentu. Harga yang terljadi mencerminkan perilaku permintaan dan penawaran yang wajar, sehingga perannya akan dapat meningkatkan kemampuan pelaku pasar untuk membuat keputusan masa depan tentang produksi, pengolahan dan perdagangan.
Meningkatnya penggunaan instrument derivative dalam mengendalikan resiko pada dasarnya dipicu oleh globalisasi ekonomi, terintegrasinya pasar keuangan dunia dan meningkatnya volatility indeks pasar modal. Sedangkan Fabozzi (1995) mensinyalir bahwa maraknya perdagangan asset turunan dalam bursa terorganisir maupun diluar bursa (Bank) karena rendahnya biaya transaksi. pengawasan pasar yang ketat; transparansi pasar;jaminan keamanan terhadap dana investor; prosedur perdagangan yang wajar; terlindungi dari penipuan, manipulasi pasar dan penyalahgunaan sistim perdagangan. Disamping itu, bursa derivative memiliki kemampuan untuk mengatur & memonitor aktifitas perdagangan;adanya kepastian dalam pelaksanaan kontrak; cepat menyelesaikan perselisihan; adanya kepastian hukum dalam bentuk sanksi; dan promosi tenaga profesional yang mengacu pada peningkatan kepercayaan investor. (John C Hull 1996).

Bentuk Bursa Derivative.
Secara tradisional sekuritas diklasifikasi atas saham dan obligasi. Kedua surat beharga ini merupakan intrumen baku yang lazim digunakan perusahaan untuk mendapatkan dana atau untuk menghimpun modal investasi. Saham merupakan bukti kepemilikan investasi dimana pembelinya berhak mendapatkan dividen, berhak mendapat capital gain (loss) sekaligus berhak memperoleh atas harta perusahaan yang menerbitkan saham bersangkutan apabila mengalami kebangkrutan dan dilikuidasi.
Obligasi sebagai surat utang yang dikeluarkan oleh emiten, dimana si pembeli atau pemegang obligasi berhak mendapatkan bunga secara berkala, berhak memperoleh capital gain/loss dan berhak menerima kembali nilai pokok obligasi pada saat jatuh tempo, sesuai dengan yang dijanjikan emiten dalam akte penerbitan obligasi. Kondisi ini berbeda dengan intrumen keuangan derivative. Derivative merupakan sejenis piranti keuangan yang diturunkan dari aktiva induknya, apakah induknya itu berupa aktiva keuangan dari saham, obligasi, valas, komoditi atau berbagai jenis indek bursa saham. Oleh sebab itu derivatif dikelompokkan dalam bentuk kontrak forward, futures, option dan swap dimana semua pihak baik pembeli maupun penjual harus menanda tanganii suatu perjanjian pada awal membuat kesepakatan.
Keberhasilan pasar derivatif sangat tergantung pada jenis aktiva yang diperdagangkan, katagori utama yang menjadi perhatian adalah perlindungan terhadap perubahan harga komoditi, mata uang, tingkat bunga dan indeks bursa saham. Oleh sebab itu bentuk umum dari derivative untuk komoditi ialah futures dan options, kendati transaksi kontrak swap semakin marak pada sejumlah bursa. Ketentuan lain dari produk yang diperdagangkan pada pasar derivative harus memiliki karakteristik berikut, antara lain : berpeluang terjadi perubahan harga dalam kadar yang cukup signifikan sehingga mampu menarik hedger atau spekulator; jumlah peredaran dana yang beresiko cukup signifikan; memilik jumlah pelaku pasar yang signifikan (termasuk investor luar negeri), adanya sejumlah produsen dan bank yang tertarik menggunakan kontrak derivative. Dalam kasus komoditi, juga ditetapkan ketentuan tentang kesetaraan dalam spesifikasi produk dan tingkatan kualitas. Sedangkan untuk produk keuangan (suku bunga, mata uang, indeks bursa saham). Kontrak derivative yang cocok adalah forward, futures, options, bahkan transaksi dalam bentuk swap semakin populer pada sejumlah bank international. Kendati demikian pertanyaan kritisnya adalah haruskah negara yang ekonominya baru berkembang perlu mendirikan bursa derivative?

Mengoperasikan Bursa Derivatif
Karena alasan ekonomi dan kebangaan nasional, acapkali memotivasi negara tersebut untuk mengoperasikan bursa derivative. Manfaat kunci pembentukan bursa derivative domestik adalah :
1) Adanya kepastian dalam penentuan harga suatu aktiva bahkan memiliki korelasi kuat antara harga aktiva derivative dengan harga tunai dan kondisi pasar uang..
2) Bahwa infrastruktur keuangan suatu negara akan meningkat apabila jaringan antara hedger, spekulator dan pasar tunai dapat terhubungi.
3) Mampu meningkatkan alokasi sumber daya, menyediakan arus informasi yang efisien, sekaligus menjadi mediator dalam memindahkan resiko keuangan dari suatu negara ke negara lain.
4) Menyediakan informasi untuk publik, menciptakan pasar lebih responsif, regulasi pembayarannya terjamin, pengawasan pasar menjadi efisien, biaya transaksi lebih rendah, harga untuk pasar futures lebih akurat, dan sumberdaya teralokasi secara lebih baik.
5) Pelaku derivatif berpeluang meminimalisasi resiko antara mereka dengan cara menutup resiko atau memindahkan ke pelaku lain yang ingin menerima rasio risk-return.
6) Dalam proses berikutnya pasar derivative mampu menarik pemain tambahan yang pada akhirnya akan meningkatkan jumlah transaksi sehingga sangat membatu terciptanya pasar yang liquid.
Dalam tahapan berikutnya bursa harus mencatat spesifikasi kontrak derivatif yang diperdagangkan, mengatur standar kualitas aktiva, menetapkan metode transfer, waktu pengantaran dan kewajiban untuk memenuhi perjanjian. Standarisasi dalam kontrak dijamin oleh lembaga perdagangan bursa. Transaksi mudah dilaksanakan, baik posisi terbuka atau tertutup telah mendorong terjadinya perdagangan dalam jumlah besar dibandingkan pengunaan dipasar spot. Kondisi Ini memudahkan pelaksanaan kegiatan bursa ke hampir semua orang yang menjadi pelaku, baik yang terlibat di pasar spot atau bukan, tapi memiliki kontribusi dalam mengurangi biaya transaksi.
Namun demikian untuk mengoperasikan bursa derivative di negara berkembang memerlukan prakondisi tertentu, seperti kondisi uang pasar sudah harus berfungsi dengan baik, memiliki investor dan speculator dalam jumlah besar, kontrak yang tidak dapat dipaksakan, memperoleh dukungan pemerintah dan pembuat kebijakan, sumber keuangan yang cukup (khususnya untuk lembaga kliring), dan tidak akan terjadinya persaingan antar produk dalam bursa tersebut (Tsetsekos 2000).
Kontrak Berjangka Tidak Baku (Forward).
Kontrak forward adalah kesepakatan antar dua pihak untuk membeli dan menjual aktiva yang dilakukan pada tanggal tertentu dimasa yang akan datang dengan harga tertentu yang telah disepakti pada saat kontrak ditandatangani. Dalam perjanjian ini salah satu pihak diwajibkan menyerahkan sejumlah aktiva tertentu pada tanggal tertentu dimasa mendatang dan pihak lainpun harus membayar sejumlah dana sesuai dengan jumlah yang disebut dalam invoice amount yang dikenakan atas aktiva pada tanggal penyerahan. (Siahaan, 2006) Tujuan kontrak ini untuk melindungi kedua belah pihak dari fluktuasi nilai aktiva yang mungkin terjadi selama kurun waktu tertentu yaitu sejak kontrak ditandatangani hingga penyerahan atau pembayaran aktiva dilakukan.
Kontrak forward bukan investasi,melainkan hanya suatu perjanjian untuk melakukan transaksi terhadap suatu aktiva keuangan (Valas, Saham, Komiditi) dengan harga dan pada tanggal tertentu dimasa mendatang. Oleh karenanya tidak perlu mengeluarkan biaya besar pada saat menandatangani kontrak, (kecuali hanya sekedar komisi kepada broker yang mempertemukan kedua belah pihak) dan tidak ada penyerahan/pertukaran aktiva antar kedua pihak pada saat kontrak disepakati. Jual beli baru akan terjadi pada tanggal jatuh tempo kontrak.artinya sebelum jatuh tempo, yang terjadi hanya perjanjian bahwa salah satu pihak wajib menyerahkan sesuatu kepada pihak lain dan pihak lain harus membayar sejumlah uang untuk menggantikan aktiva yang diserahkan sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati.
Sebagai kesepakatan individual antar dua pihak, kontrak forward biasanya diatur secara khusus untuk memenuhi kebutuhan masing-masing pihak. Oleh karena itu sifatnya disebut private (bergantung pada pribadi kedua belah pihak)
Kontrak berjangka tidak baku ini biasanya diimplementasikan dengan menggunakan nilai mata uang forward yang mewakili kurs penukaran aktiva pada masa mendatang. Jika sebuah perusahaan memperkirakan adanya kebutuhan atau penerimaan suatu valuta asing dimasa mendatang, perusahaan diatas dapat melakukan kontrak forward guna mengunci kurs pembelian atau penjualan terhadap valuta yang diinginkan.
Misalkan PT X pada Juni 2007 mengexport barang ke Amerika senilai $1.000.000 dan akan menerima pembayaran dalam waktu 90 hari. Jika kurs $1 pada saat (Juni) Rp. 9.100/$ berarti PT X akan memperoleh dana Rp. 9,1 Milyar. Akan tetapi kalau kurs US$1 tiga bulan kedepan (Sept) Rp. 9.000 maka PT X mengalami kerugian Rp. 100 juta. Untuk menghindari exposure loss ini, PT X akan lebih aman jika membuat kontrak currency forward dengan sebuah Bank yang menjadi korespondennya. Dengan kontrak berjangka ini berarti Perusahaan telah “mengunci” kurs untuk 90 hari dari sekarang, kendati USDollarnya belum dia miliki. Apablia ekspektasi exportir menjadi kenyataan dimana US$1 = Rp. 9.000 sementara bank koresponden telah menjamin pembelian US$1 pada harga Rp 9.080/USD pada bulan September, berarti Perusahaan ini dapat menghemat kerugian sebesar Rp. 80 juta {$1.000.000 x (9.080 – 9.000)} akibat terjadi appresiasi dalam mata uang rupiah.
Perlu diingat bahwa kontrak berjangka ini tidak bebas dari risiko, bahkan seringkali salah satu pihak akan mangkir dari perjanjian, karena tidak memiliki kekuatan dahsyat secara financial, apalagi kalau harga komoditas yang menjadi dasar kesepakatan telah
mengalami perubahan signifikan setelah perjanjian disepakati.

Kontrak Berjangka Baku (Futures)
Kontrak futures mirip dengan kontrak forward, akan tetapi terdapat lima perbedaan mendasar yaitu :
1) Kontrak futures mekanisme perdagangan sudah baku, transaksi dilakukan oleh bursa resmi yang difasilitasi oleh system lembaga kliring
2) Kontrak futures disesuaikan dengan kondisi pasar secara harian, artinya ada perhitungan untung-rugi, disertai dengan keharusan menyerahkan sejumlah dana dalam jumlah tertentu sebagai jaminan untuk menutup kerugian akibat perubahan harga. Hal ini akan mengurangi risiko gagal bayar seperti yang terjadi dalam kontrak forwad.
3) Kontrak futures pada umumnya merupakan instrumen yang telah distandarisasi, diperdagangkan pada bursa telah terorganisir dengan baik, dapat dipindahkan tangankan kepada pihak lain, sedangkan kontrak forward biasanya bersifat kontrak khusus yang merupakan hasil negosiasi dari kedua belah pihak dan tidak diperdagangkan lagi setelah kesepakatan ditanda tangani.
4) Dalam kontrak futures penyerahan secara fisik atas aktiva keuangan yang menjadi dasar perjanjian hampir tidak pernah terjadi, kedua pihak hanya memberikan penggantian secara tunai untuk menutup setiap perbedaan yang terjadi antara harga menurut kontrak dengan harga actual ketika jatuh tempo
5) Dalam kontrak futures penyerahan aktiva keuangan diselesaikan sepanjang masa kontrak, sedangkan kontrak forward penyerahan aktiva pada saat jatuh tempo,

LEMBAGA KLIRING
Untuk menggerakkan roda pasar derivatif lembaga kliring bekerja sama dengan bursa efek, salah satu fungsinya adalah untuk menjamin mereka yang bertransaksi untuk saling patuh dalam melaksanakan kesepakatan yang telah ditandatangani. Dengan adanya lembaga kliring kedua belah pihak tidak perlu khawatir mengenai kekuatan keuangan dan integritas pihak lain dalam kontrak, karena hubungan antara pembeli dan penjual akan berakhir setelah kontrak ditandatangani. Selanjutnya Lembaga kliring memposisikan diri sebagai pembeli untuk setiap penjual dan akan bertindak selaku penjual untuk setiap pembeli. Dengan demikian kedua belah pihak bebas melikuidasi posisi mereka tanpa perlu takut bahwa pihak lain akan ingkar janji dan clearing house bukan saja bertindak sebagai fasilisator dalam mempertemukan pelaku kontrak, tetapi juga menjaga dan mempertahankan agar kondisi pasar futures tetap menjadi likuid.
Untuk memahami pola operasional lembaga kliring dapat diilustrasikan dalam pasar futures kopi, katakanlah Exportir A setuju membeli 100 ton kopi pada PT M dengan harga $1.500/ton dengan masa penyerahan 3 bulan kedepan. Exportir A memprediksikan bahwa harga kopi akan naik menjadi $1.600,- sedangkan PT M mmperkirakan harga kopi akan turun menjadi $1.400/ton. Apabila setelah 3 bulan kemudian harga kopi menjadi $1.560/ton berarti exporter A akan meraih laba $ 6.000. (100 ton x $ 60)

Margin Requirement
Factor lain yang membedakannya dengan kontrak forward adalah bahwa pada saat kontrak Futures ditandatangani, kedua belah pihak harus menyetor sejumlah dana minimum (margin) kepada lembaga kliring yang besarnya ditetapkan oleh bursa. Setoran ini harus dipisahkan dengan rekening lain dengan maksud untuk menjamin bahwa mereka akan memenuhi kewajibannya. Secara harian besarnya margin tersebut disesuaikan dengan kondisi pasar (marking to the market) sehingga lembaga kliring dapat melaksanakan kontrak jual beli aktiva yang telah disepakati. Oleh sebab itu bursa menetapkan cadangan margin minimum yang harus ditaati kedua pihak untuk menjamin kontraknya dipatuhi. Apabila rekening mereka berada dibawah batas margin minimum, pembeli atau penjual wajib menambah setorannya ketika aktiva induknya mengalami perubahan harga. Andaikan ketentuan tersebut tidak dipenuhi, maka para pelaku kontrak akan segera menerima margin call dari bursa dengan maksud meminta tambahan tabungan supaya ekuitasnya meningkat sama dengan margin awal. Untuk mendalami prosedur penentuan margin yang dibutuhkan dan margin maintainance dalam kontrak futures, mari ikuti ilustrasi berikut.
Menyetujui kontrak jual beli terhadap 10 Ton Kopi pada harga $ 1.500 per ton
Setoran wajib awal (Margin Requirement) $ 120 perton
Setoran yang wajib dipertahankan (Margin Maintainance) $ 80 perton, maka
Hasil Perhitungan
Rekening Laba (Rugi) 10 Ton Kontrak berjangka secara mingguan
Minggu Harga Gain/Loss Gain/Loss Saldo Margin Call
Transaksi Futures ($) US$ Komulatif Margin US$
10 Ton $1,500.00 – – – $1,500.00
1 $1,450.00 $500.00 $500.00 $1,000.00
2 $1,440.00 $100.00 $600.00 $900.00
3 $1,420.00 $200.00 $800.00 $700.00 $800.00
4 $1,400.00 $200.00 $1,000.00 $1,300.00
5 $1,430.00 $300.00 $700.00 $1,600.00 – $100.00
6 $1,470.00 $400.00 $300.00 $2,000.00 – $400.00

Catatan :
Harga Kopi pada Minggu I, II, III dan Minggu ke IV mengalami penurunan mulai dari $ 1.500 menjadi $ 1.400, sedangkan untuk Minggu ke V dan ke VI harganya mulai naik kembali menjadi $ 1.470/ton

Kontrak Berjangka Mata Uang (Currency Futures)
Dari semua jenis futures keuangan, kontrak mata uang asing menjadi yang paling banyak diminati, kesamaan kontrak ini dengan model lain terletak pada alasan dasar yang tidak berbeda, yaitu untuk mengurangi risiko perubahan kurs valas. Katakanlah seorang importir memperkirakan bahwa US Dollar akan mengalami appresiasi dimasa depan, atas dasar dugaan tersebut, mereka membuat kontrak futures US Dollar guna mengunci harga US Dollar untuk membayar nilai impor ketika jatuh tempo. Dengan demikian importir nantinya dapat membeli US Dollar pada kurs yang telah disepakati dalam kontrak saat ini. Apabila kurs spot tersebut mengalami appresiasi sesuai dengan ekspektasi, berarti importir dapat menghemat jumlah pembayaran yang harus dilunasi kepada pihak penjual.
Misalkan PT M pada Juli 2007 mengimport barang dari Amerika senilai $1.000.000 dan harus membayar dalam waktu 90 hari. Jika kurs $1 perjuli Rp. 9.150 berarti PT M perlu menyiapkan dana Rp. 9,15 Milyar untuk membayar tagihan import. Akan tetapi kalau kurs 1 US$ 3 bulan kedepan (Okt) Rp. 9.400 maka PT M harus membayar Rp. 250 juta lebih tinggi dari nilai import awal. Untuk menghindari lebih bayar diatas PT M sebaiknya membeli USDollar saat ini dengan meminjam uang pada pihak lain, sehingga tidak perl menanggung kerugian ketika tagihan importnya jatuh tempo. Sebaliknya alangkah gembiranya Perusahaan ini jika mampu “mengunci” kurs untuk 90 hari dari sekarang tanpa harus menukarkan rupiah dengan US Dollar saat ini, tetapi cukup dengan suatu pengaturan transaksi US Dollar secara berjangka dengan seorang pialang di bursa. Melalui perjanjian kontrak futures US Dollar pada tarif Rp. 9.200/USD hari ini dan akan ditebus bulan Oktober, berarti lembaga kliring bursa telah menjamin bahwa PT M akan menerima US$ 1.000.000 sebagai hasil dari posisi long dari currency futures.

Marking to Market
Peranan marking to market bersifat memantau perubahan harga aktiva induk secara harian sekaligus memperhitungkan laba-rugi kedalam rekening kedua belah pihak terhadap jumlah cadangan wajib minimum yang telah mereka setorkan. Setoran wajib minimum menjadi bukti kuat bahwa pihak pembeli dan penjual yang telah menyepakati kontrak, mereka memiliki dana yang cukup dalam bentuk deposito pada lembaga kliring untuk menutupi kekurangan jika terjadi perubahan harga dalam aktiva induknya. Jadi fluktuasi harga spot dengan forward menjamin integritas kontrak futures. Sebagai ilustrasi peranan yang dimainkan marking to market dapat disimak dari contoh sederhana berikut, katakanlah Tn Badu setuju membeli 10 ton kopi dengan harga $ 1.500/ton untuk penyerahan 3 bulan mendatang, seandainya setelah sebulan kontak, harga kopi naik menjadi $ 1.600/ton berarti pembeli memperoleh untung $ 1.000, sebab nilai kontrak beli mereka $ 15.000/ton (10 x $1.500) sedangkan harga setelah satu bulan harga 10 x $ 1.600 = $ 16.000. Sebaliknya kalau harga komoditi tersebut turun menjadi $ 1.400/ton, maka rekening penjual bertambah $ 1.000. dan pembeli akan berkurang dalam jumlah yang sama. Adanya ketentuan mark to market memaksa kedua pihak untuk mengakui terjadinya keuntungan dan kerugian sebagai dampak dari fluktuasi harga aktiva induk. Dengan demikan keuntungan yang diraih satu pihak selalu diimbangi dengan kerugian pada pihak lain dalam jumlah yang sama. Atas dasar itulah maka perdagangan pasar futures merupakan zero sum game.

Limit Harga
Transaksi dalam futures pada umumnya berlangsung melalui persetujuan Comoditi Futures Trading Commision (CFTF). Lembaga ini dapat menentukan batas maximum perubahan harga komoditas yang diperkenankan secara harian. Misalnya batas tertinggi fluktuasii harga kopi $100/ton sementara harga di pasar spot $ 1.500/ton, maka harga yang di perkenankan berubah pada hari berikutnya harus pada kisaran $1.400 s/d $1.600/ton. Seandainya harganya menjadi $1.630, berarti spekulator dapat melakukan transaksi di luar bursa, karena bursa hanya melayani pada harga $1.600/ton. Jadi ketika harga mencapai $1.630/ton pada hari itu kemungkinan tidak terjadi transaksi, sebab tidak satupun penjual berselera melepaskan barangnya dibawah harga tersebut. Untuk itu pembeli harus menunggu pada esok hari manakala toleransi perubahan harga telah mencapai kisaran $1.500 s/d $1.700/ton.
Secara logika ketentuan batas pergerakan harga ini sangat penting bagi keamanan investor, Disatu sisi dapat dipahami bahwa setoran wajib minimum yang mereka miliki misalnya hanya $1.200 untuk kontrak pembelian kopi 10 ton, sementara kenaikan harga mencapai $1.300, berarti kondisi salah satu pihak dalam kontrak tersebut berada dalam posisi pailit karena rekeningnya di lembagakliring telah minus. Dengan demikian untuk kedepan investor seperti ini tidak layak lagi didaftarkan sebagai pemain pasar futures.
Mata Uang Asing yang
Diperdagangkan di IMM
No. Currency Unit Per IMM Contract
1 AUD 100,000.00
2 GBP 62,500.00
3 CAD 100,000.00
4 FRF 250,000.00
5 DEM 125,000.00
6 JPY 12,500,000.00
7 CHF 125,000.00

Kontrak Options.
Sementara kalangan menganggap bahwa kontrak futures tidak beda dengan kontrak opsi, padahal dalam kontrak opsi terbuka peluang bagi kedua belah pihak untuk tidak melaksanakan kesepakatan pada saat jatuh tempo, terutama untuk opsi calll yang out the money, sehingga kontrak opsi tidak bernilai bahkan diabaikan oleh pihak tertentu. Sebaliknya dalam kontrak futures pihak yang terlibat dalam perjanjian dituntut untuk menepati kesepakatannya pada akhir periode kontrak.
Perlu dingat bahwa kontrak opsi adalah suatu kontrak yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli (bukan kewajiban untuk membeli) atau menjual aktiva tertentu pada harga dan jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Sebalik penjual opsi wajib menjual atau membeli aktiva keuangan tersebut sesuai dengan keinginan pemilik opsi. (Salvatore, 1996)
Jika dalam kontrak futures tersedia lembaga kliring, marking to the market dan ketentuan setoran wajib minimum ( margin requirement) maka dalam option terdapat juga lembaga option clearing corporation, margin dan market maker.

Option Clearing Corportion.
Lembaga yang memfasilitasi transaksi opsi ini berfungsi seperti lembaga kliring dalam futures, teknik operasionalnya menggunakan system computer, agar dapat mengikuti seluruh transaksi dilantai bursa dan mencatat posisi investor pada setiap transaksi. Meskipun mekanismenya agak rumit, prinsip dasarnya sangat sederhana. Dalam arti bahwa apabila pihak pembeli dan penjual aktiva setuju menandatangani kontrak serta siap sedia membayar premi opsi, maka OCC akan bertindak untuk dan atas nama penandatangan kontrak dalam rangka menjamin penyerahan aktiva tertentu jika salah satu pihak gagal menyediakannya.
Dengan adanya OCC memungkinkan pembeli dan penjual dapat keluar dari posisi mereka setiap saat, jika pembeli bertindak sebagai penjual, artinya pembeli opsi kemudian menjual kontraknya kepada pihak lain,OCC akan mencatat keseimbangan rekening investor dan membatalkan kedua transaksi. Andaikata investor A membeli kontrak pada hari senin dan menjual pada hari selasa, OCC akan mencatat posisi netto investor A sebesar nol.

Margin
Setiap pembeli opsi menginginkan suatu kepastian, dalam arti bahwa penjual dapat menyerahkan aktivanya sebagaimana yang ditetapkan dalam kontrak. Khusus opsi call akan lebih menyukai suatu kepastian bahwa penjual mampu memberikan aktiva sebagaimana yang dijanjikan, sedangkan opsi put akan sangat senang apabila pembeli telah menyediakan dana tunai yang diperlukan. Mengingat semua kontrak opsi berhubungan dengan OCC , maka OCC dapat menetapkan margin requirement yang lebih tinggi dibandingkan dengan ketetapan bursa. Besarnya biaya netto untuk penjual opsi adalah perbedaan absolute antara harga kontrak ketika ditandatangani dengan nilai pasar aktiva pada saat jatuh tempo.

Market maker
Pasar opsi biasanya tidak menyediakan tenaga spesialis, akan tetapi mereka sering menggunakan market maker yang bertindak sebagai dealer atau pegawai pencatat order (order book officials) yang tugasnya mencatat limit order. Market maker berada di lantai bursa untuk mencatat pesanan dari masyarakat investor. Dalam melaksanakan tugas tersebut market maker memiliki persediaan opsi yang disertai dengan harga penawaran bid-ask, namun mereka tidak dibenarkan berhubungan dengan transaksi selain opsi. Posisi mereka berdiri di pos perdagangan (trading post) untuk opsi tertentu yang menjadi tanggungannya, semua order yang diterima biasanya dilakukan secara lelang pada trading post dengan berteriak (Open out cry) lelang dilakukan secara oral.
Tidak seperti pihak yang terlibat dalam kontrak futures, pembeli opsi memiliki hak, (bukan kewajiban untuk bertransaksi), karena membayar penjual sebesar premi opsi. sedang penjual mempunyai kewajiban untuk melaksanakan transaksi. Oleh sebab itu karakteristik risiko dari kedua jenis kontrak ini juga berbeda. Dalam kontrak futures pembeli kontrak memperoleh keuntungan apabila harga aktiva yang mendasarinya mengalami kenaikan. sedangkan Opsi tidak memiliki hubungan risiko simetris seperti futures, kerugian maksimal yang dialami pembeli opsi adalah sebesar harga premi opsi itu sendiri. Perbedaan ini amat penting diketahui, karena investor dapat menggunakan futures untuk melindungi diri dari risiko simetris dan mengambil kontrak opsi untuk mengamankan diri dari risiko yang tidak simetris.

Opsi Call Saham
Jenis opsi yang paling mendominasi perdagangan di bursa adalah opsi call dan opsi put. Dalam opsi call para investor amat perlu memperhatikan tentang perusahaan yang aktivanya akan dibeli, jumlah kuantitas yang akan dibeli, harga pembelian dan batas akhir hak untuk membeli.
Katakanlah investor D setuju membayar premi opsi call untuk membeli 1500 lembar salah satu saham syariah dalam waktu 3 bulan kedepan dengan harga Rp. 10.000,-/lembar, kendati harga transaksi dibursa hari ini Rp. 9.600/lbr. Keseriusan pembelian ini dibuktikan dengan membayar premi opsi Rp. 200/lembar kepada lembaga OCC. Tuan D sangat yakin (atas dasar hasil prediksinya) bahwa saham tersebut akan segera meningkat harganya. Sedangkan salah seorang pedagang saham (R) dibursa, yang memiliki banyak pengalaman memperkirakan bahwa saham yang diminati investor D tidak akan melampau di atas harga Rp. 10.000,- dalam periode tersebut, sehingga R bersedia menerima opsi call dari D. Apabila setelah tiga bulan harga pasar saham tersebut naik menjadi Rp. 11.000,- berarti tuan D akan meraih laba Rp 1.200.000,- (1.500 x 1.000) – (1.500 x 200) sementara Tn R harus menjual sahamnya kendati menderita rugi dalam jumlah yang sama. Sebaliknya kalau harga turun menjadi Rp 9.000, maka investor D tidak akan dikenakan sanksi apapun meskipun membatalkan penebusan opsi tersebut.

Opsi Put Saham
Selanjutnya dalam opsi put, dimana pemegang opsi memiliki hak untuk menjual aktiva tertentu pada harga tertentu dimasa mendatang. Dalam opsi put penjual harus mempertimbangkan tentang ivestor yang akan membeli aktivanya, jumlah aktiva yang akan dibeli, harga jual dan batas akhir hak menjual.
Di asumsikan bahwa pemegang saham Z setuju membeli premi opsi put untuk menjual 2500 lembar salahsatu saham LQ-45 dalam waktu 6 bulan kedepan dengan harga Rp. 6.000,-/lembar, padahal hari ini harga transaksi dibursa Rp. 6.400/lbr. Tekat penjualan ini atas dasar perkiraan bahwa salah satu saham LQ-45 akan turun dalam semester depan, dengan demkian Tn Z membayar premi opsi put sebesar Rp. 150/lembar kepada calon pembeli saham tersebut (Tn S) yang dicatat oleh OCC. Persetujuan tuan S ini atas dasar keyakinan bahwa saham LQ 45 akan semakin meningkat harganya. Seandainya setelah 6 bulan ternyata harga pasar salah satu saham tersebut menjadi Rp. 5.000,- tuan S tetap harus membeli saham diatas pada harga Rp. 6.000,- kendati dalam kondisi harga yang sangat mahal, yang menjadikan tuan Z memperoleh laba Rp 2.125.000,- (2.500 x 1.000) – (2.500 x 150), Sebaliknya apabila harga pasarnya meningkat menjadi Rp. 7,500/lembar, pemegang saham LQ-45 dibenarkan untuk membatalkan kontrak jual, kendati harus menanggung kerugian sebesar harga premi opsi yang telanjur dibayar (2.500 x Rp150) = Rp. 375.000,-

Opsi Mata Uang Asing
Currency option adalah tipe kontrak alternatif yang dapat dibeli atau dijual oleh para investor/spekulan untuk melindungi diri dari pergerakan harga pada masa mendatang. Opsi ini dirancang sesuai dengan kebutuhan spesifik dari perusahaan dimana semua ketentuan umum mengenai jumlah unit, strike price dan tanggal jatuh tempo harus dijelaskan secara rinci sejak awal, agar para klien memahami prosedural operasional sekaligus mampu memenuhi kesepakatan dalam setiap kontrak (Jeff Madura, 1997)
Jenis valas yang paling lazim diperdagangkan pada bursa/International Money Market mencakup Pound Inggris, Dollar Kanada, Mark Jerman, Yen Jepang, Franc Prancis dan Dollar Australia. Apabila transaksinya melibatkan lebih dari satu mata uang, para pialang akan meminta investor untuk menempatkan deposito margin dalam jumlah tertentu guna melidungi diri mereka dari kerugian jika pihak tertentu tidak memenuhi kewajibannya.

Currency Call Option
Bagi setiap importir opsi call dapat dimanfaatkan untuk mengunci harga yang harus di bayarkan terhadap suatu valas tertentu dimasa depan. Apabila kurs spot dari suatu valuta asing naik melampaui strike price (kesepakatan kurs valas yang akan ditebus pada akhir periode perjanjian) pemilik opsi call dapat menggunakan haknya untuk membeli mata uang tersebut pada strike price, karena harga tebusannya lebih rendah dari harga pasar saat itu (spot price). Perlu diingat bahwa suatu currency opsi call diklasifikasi sebagai in the money (apabila harga pasar valas pada akhir kontrak lebih tinggi dari harga yang telah disepakati). at the money (harga pasar valas pada akhir kontrak sama dengan harga kesepakatan). dan out the money (kurs valas pada akhir periode kontrak lebih rendah dari harga kesepakatan). Penjelasan teoritis ini perlu diungkapkan mengingat banyak pihak yang membutuhkan suatu valas dimasa mendatang tetapi kurang mendalamii istilah dan prosedur operasionalnya. Sebagai ilustrasi anggaplah bahwa PT Q memenangkan tender dalam suatu proyek di Australia yang memerlukan dana AU$ 3 juta untuk membeli semua keperluan proyek, akan tetapi perusahaan ini tidak yakin apakah dia akan mampu menyiapkan dana tersebut dalam waktu 6 bulan kedepan. Untuk menutupi exposure kurs yang akan muncul, PT Q dapat membeli 30 opsi call yang memiliki jatuh tempo 6 bulan dari sekarang.
Diasumsikan bahwa strike price/exercise price AU$ 1 = Rp. 6.100,- dengan premium call Rp. 150,- sehingga perusahaan harus membayar biaya per opsi Rp 15.000.000,- (150 x 100.000) Dengan membeli opsi tersebut jumlah maksimum pengeluaran rupiah untuk membeli AUD adalah Rp. 18,3 milyar atau akan lebih rendah jika kurs spot AUD dengan rupiah dibawah exercise price ketika AUD dibeli. Seminggu menjelang tanggal jatuh tempo kurs Dollar Australia telah mencapai Rp. 6.300. Karena menguntungkan PT Q segera menggunakan opsinya dan langsung menjual AU$ ke pasar spot kepada sebuah bank. Kejadian ini jika dikalkulasikan dalam laporan laba rugi yang diperoleh PT Q dari transaksi opsi call diatas adalah :
Perhitungan Laba Rugi Pemegang Opsi Call
Per Unit Per Kontrak
Harga Pasar AU$ 6,300 6.300 x 3.000.000,- 18,900,000,000
Harga Pembelian AU$ 6,100 6.100 x 3.000.000,- (18,300,000,000)
Premium Pembelian Opsi 150 150 x 3.000.000,- (450,000,000)
Laba Bersih 50 150,000,000

Perhitungan Laba Rugi Penerima Premium Opsi Call
Per Unit Per Kontrak
Harga Penjualan AU$ 6,100 6.100 x 3.000.000,- 18,300,000,000
Harga Pasar AU$ (6,300) 6.300 x 3.000.000,- (18,900,000,000)
Premium Yang Diterima 150 150 x 3.000.000,- 450,000,000
Laba (Rugi) bersih (50) (150,000,000)

Currency Put Option.
Pemilik currency put option diberikan hak untuk menjual suatu valuta dengan harga tertentu (strike price) sepanjang periode waktu tertentu, tetapi tidak ada kewajiban untuk mengeksekusi opsi tersebut apabila akan menderita kerugian. Currency opsi put juga diklasifikasi dalam in the money (apabila harga pasar valas pada akhir kontrak lebih rendah dari harga yang telah disepakati). at the money (harga pasar valas pada akhir kontrak sama dengan harga kesepakatan). dan out the money (kurs valas pada akhir kontrak lebih tinggi dari harga kesepakatan). Faktor utama yang mempengaruhi premium opsi put antara lain disebabkan :
a) Makin rendah kurs spot dibandingkan strike price, semakin tinggi premium opsi put, karena semakin besar kemungkinan opsi put digunakan.
b) Semakin panjang waktu jatuh tempo, semakin besar biaya premium opsinya, alasannya periode yang lebih lama menciptakan probabilitas gejolak valuta yang lebih besar sehingga sangat besar kemungkinan opsi put dieksekusi.
c) Semakin besar variabilitas suatu valuta, semakin besar biaya premiumnya, sebab probabilitas akan digunakan opsi put semakin tinggi.
Perlu diingat bahwa opsi put akan sangat diminati apabila keberadaan mata uang tertentu mengalami appresiasi sangat signifikan. Sebagai ilustrasi untuk menentukan besarnya laba-rugi dalam transaksi opsi put, dapat dicontohkan melalui kondisi berikut. Katakanlah PT ABC baru saja selesai mengirimkan exportnya ke Amerika senilai US$ 2.000.000,- yang akan dibayar dalam waktu 4 bulan kedepan, karena kondisi ekonomi Amerika masih dalam stagnan dan suku bunga FED semakin tinggi, dikhawatirkan US Dollar akan mengalami depresiasi, untuk melindungi kerugian besar akibat depresiasi ini, PT ABC memutuskan untuk membeli opsi put USDollar pada sebuah bank di Singapore.
Diasumsikan bahwa strike price US$ 1 = Rp. 9.100,- dengan premium put Rp. 200,- sehingga perusahaan harus membayar biaya sebesar Rp 2.000.000,-/opsi. Dengan membeli opsi put ini jumlah maksimum pendapatan yang diperoleh adalah Rp. 18,2 milyar atau akan lebih tinggi jika kurs spot US Dollar-Rupiah diatas exercise price ketika USDollar yang dimilikinya dijual ke pasar bebas. Menjelang seminggu sebelum tanggal jatuh tempo, ternyata kurs US Dollar telah menjadi Rp. 8.700. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi PT ABC, sehingga opsi put segera dieksekusi dan segera menjual US$ hasil tagihan expornya kepada penerima premium opsi put pada harga Rp. 9.100,-/$1. adapun perhitungan laba–rugi atas kejadian tersebut sbb :
Perhitungan Laba Rugi Pemegang Opsi Put
Per Unit Per Kontrak
Harga Penjualan US$ 9.100 9.100 x 2.000.000,- 18,400,000,000
Harga Pasar US$ 8.700 8.700 x 2.000.000,- (17,400,000,000)
Premium Pembelian Opsi put 250 250 x 2.000.000,- (500,000,000)
Laba Bersih 150 300,000,000

Perhitungan Laba Rugi Penerima Premium Opsi put
Per Unit Per Kontrak
Harga Pasar US$ 8.700 6.700 x 2.000.000,- 1.7.,400,000,000
Harga Pembelian US$ (9.100) 9.100 x 2.000.000,- (18,900,000,000)
Premium Yang Diterima 250 250 x 2.000.000,- 500,000,000
Laba (Rugi) bersih (150) (300,000,000)

Kontrak Swap
Kontrak Swap adalah kesepakatan antaran dua pihak (perusahaan) untuk menukar sejumlah arus kas selama kurun waktu tertentu di masa depan. Dalam kesepakatan tersebut ditentukan secara khusus tanggal pembayaran dan prosedur perhitungan jumlah tunai yang saling dipertukarkan. Perhitungan jumlah dana yang wajib dibayar ke masing-masing pihak, biasanya mengkaitkan prospek kondisi suku bunga, kurs valas dan variable lain yang relevan guna menentukan nilai masa mendatang.. Secara umum kontrak swap merupakan teknik lain dalam mengendalikan resiko perubahan harga. Transaksinya berlangsung cukup sederhana dimana prosesnya akan terjadi apabila dua pihak setuju untuk saling membayar kewajiban utang. Jika dalam kontrak futures dan option menangani perubahan harga untuk jangka pendek, maka swap menyiapkan bagi maneger keuangan kemampuan menahan risiko perubahan kurs untuk jangka waktu yang lebih panjang. Alasan inilah yang menyebabkan kontrak swap menjadi lebih popular. (Keown, 1996) Perlu disadari bahwa kontrak swap merupakan konversi kewajiban utang dalam jumlah yang berbeda, sehingga kedua pihak dapat membuat suatu kesepakatan untuk saling menyetujui penukaran pembayaran bunga secara berkala. Jumlah pembayaran bunga yang dipertukar biasanya berdasarkan pokok utang yang telah ditentukan sebelumnya. Artinya jumlah bunga yang dibayar oleh masing-masing pihak merupakan bunga yang telah disepakati dikali dengan jumlah besarnya utang. Untuk mengilustrasikan Swap suku bunga acapkali diawali dengan adanya suatu proyeksi bahwa suku bunga tahun depan akan mengalami kenaikan, sementara perusahaan telah terlanjur menerbitkan surat utang. Untuk melindungi kewajiban membayar bunga yang lebih tinggi, para pihak sepakat menandatangani kontrak swap. Anggaplah bahwa PT A telah menjual obligasi USD 100 juta dengan coupon sebesar LIBOR, sedangkan PT B telah menerbitkan Obligasi dengan bunga 6% pertahun, kedua obligasi ini membayar cupon tiap 6 bulanan.Untuk mengamankan arus kas masuk, masing-masing perusahaan sepakat membuat suatu kesepakatan. dimana PT A setuju membayar bunga 6% kepada PT B, selanjutnya PT B dengan senang hati menyetor sebesar bunga LIBOR 6 bulan kepada PT. A. Seandainya pada akhir semester ternyata bunga LIBOR 7%, 6,5%, 5,9% dan 5,5%, berarti PT A akan memperoleh hasil dari kesepakatan SWAP $ 3,5 juta, 3,25 juta, 2,95 juta dan 2,75 juta (5,5%/2 x USD 100 juta), sedangkan PT B Menerima hasil perjanjian tersebut sebesar $.3 juta (3% x USD100 juta). Pendapatan kontrak swap masing masing perusahaan ini persis sama dengan kewajiban bunga yang harus mereka bayarkan kepada pembeli obligasi.
Perhitungan Swap Suku Bunga Semeteran
Bunga Pembayaran Membayar Pembayaran Membayar
Smester LIBOR Dari PT B Ke PT A Netto dari PT A Ke PT B Netto
Pertama 3,50% 3.500.000 3.000.000 500.000 3.000.000 3.500.000 -500.000
Kedua 3,25% 3.250.000 3.000.000 250.000 3.000.000 3.250.000 -250.000
Ketiga 2,95% 2.950.000 3.000.000 -50.000 3.000.000 2.950.000 50.000
Keempat 2,75% 2.750.000 3.000.000 250.000 3.000.000 2.750.000 250.000

Kondisi diatas menggambarkan bahwa kedua perusahaan berada dalam posisi brek event karena penerimaan dari kontrak swap sama besarnya dengan beban bunga yang harus mereka bayar kepada pemegang obligasi. Akan tetapi perlu diingat bahwa Swap suku bunga melibatkan pembayaran sampingan akibat perubahan suku bunga yang signifikan, maksudnya apabila suku bunga turun secara drastis sejak PT B menerbitkan surat utang, maka pembayaran cupon obligasi lama akan semakin mahal, untuk itu PT B harus melakukan pembayaran sampingan sehingga menarik minat PT A untuk menyetujui perjanjian kontrak.
Bagi pendatang baru perlu mengetahui bahwa Pasar swap tidak dikelola oleh lembaga pemerintah, sehingga sangat mungkin terjadi kegagalan terhadap dana yang telanjur disandingkan dalam kontrak. Selain transaksinya yang bersifat tertutup karena tidak ada keharusan melaporkan kondisi keuangan pelakunya, setiap orang yang terikat dalam perjanjian swap juga harus mempertimbangkan kemampuan finansial pihak lain. Dengan demikian masing pihak dalam kontrakswap harus benar-benar memperhatikan kelayakan kredit kepada pihak lain,agar dapat meminimalisir risiko kegagalan dalam melakukan pembayaran.
Perlu dicatat bahwa pusat pasar swap adalah bank swap. Bank swap ini memfasilitasi penciptaan kontrak swap untuk para nasabah. Modus pelaksanaannya mereka ini seringkali mengambil posisi berlawanan dalam kontrak apabila tidak ada pihak lain yang bersedia melakukan transaksi. Dalam situasi seperti ini pelanggan bank bertindak sebagai dealer swap dengan menggunakan berbagai macam teknik untuk melindungi risiko keuangan yang mereka hadapi.
Ketika suatu kontrak swap telah ditandatangani, kemudian salah satu pihak sering mengalami kerugian dan ingin menarik diri, maka prosedur penyelesaiannya dapat dilakukan dengan menghubungi bank yang tadinya telah mempertemukan mereka. Bank swap tersebut biasanya akan meminta kepada pihak yang ingin memutuskan kontrak, untuk melakukan pembayaran lump-sum secara tunai kepada pihak lain dalam jumlah yang sesuai dengan kesepakatan awal.
SWAP Mata Uang (Currency)
Swap currency hampir sama dengan dengan swap suku bunga, ia mengacu pada penjualan suatu mata uang berdasarkan kurs spot yang dikombinasikan dengan perjanijan pembelian secara berjangka atas mata uang yang sama. Sebagai ilustrasi diumpamakan Bank Mu’amalat menerima pembayaran $ 1 juta pada hari ini, namun bank tersebut baru memerlukan uang ini pada tiga bulan mendatang. Mengingat ada dana yang nganggur dan dalam waktu bersamaan terbuka peluang untuk menjual USD dengan rupiah, maka kondisi ini dimanfaatkannya dengan menginvestasikan uang itu kedalam deposito pada Citibank dengan bunga 12% pertahun, selanjutnya Bank Mu’amalat membuat kontrak pembelian kembali $ 1 juta pada tiga bulan mendatang dengan kurs Rp. 9.150,- . Andaikata kurs saat mendeposito $1 =Rp. 9.100,- maka jumlah pendapatan bank Mu’amalat setelah 3 bulan adalah Rp. 10.373 juta ( $1 juta x Rp 9.100 x 1,03) equivalent dengan US$ 1.024.371,6. Pertukaran mata uang ini merupakan gabungan transaksi spot dengan transaksi berjangka. Praktek ini lebih disukai karena lebih praktis dibandingkan dua transaksi yang terpisah (artinya Bank Mu’amalat melakukan trsansaksi spot terlebih dahulu, sebelum melakukan transaksi transaksi berjangka)
Gambaran lain currency swap misalnya sebagian besar penghasilan PT S diperoleh dari hasil penjualan produk ke Malaysia, untuk mengamankan penghasilan tersebut, PT S perlu melakukan kontrak swap dengan perusahaan di Malaysia, jika kurs Ringgit akan terdepresiasi dari Rp. 2.500 menjadi Rp. 2.300,-/®, maka setiap ® 1 penjualan di Malaysia akan memberikan pendapatan yang lebih kecil kepada PT S. Kondisi ini dapat ditangani oleh currency swap dengan cara membuat kontrak jual Ringgit pada kurs spot di sebuah Bank di Indonesia. Jaminan pembelian Ringgit oleh Bank tersebut diikuti dengan kewajiban PT S membayar biaya kontrak jual sebesar selisih bunga antara dua negara. Seandainya suku bunga Indonesia 12% pertahun, suku bunga di Malaysia 10% sehingga sesisih suku bunga antara Negara 2%, kontrak jual untuk masa 6 bulan dalam jumlah ® 10 juta. Dengan demikian kalkulasi hasilnya sbb :
Penjualan ringgit = ®10 juta x Rp. 2.500 = Rp. 25.000.000.000,-
Biaya kontrak swap bulan = 2%/2 x Rp. 25 milyar = Rp. 250.000.000,-
Pendapatan bersih PT S = Rp. 24.750.000.000,-
Sebaliknya jika tidak membuat kontrak currency swap, penghasilan PT S hanya sebesar ®10 juta x Rp. 2.300 = Rp. 23 milyar.

SWAP Ekuitas
Swap ekuitas merupakan suatu kesepakatan bahwa pihak pertama setuju membayar sejumlah uang yang besarnya bervariasi berdasarkan Rate of return dari indeks saham tertentu kepada pihak kedua. Sebaliknya pihak kedua juga setuju membayar sejumlah dana kepada pihak pertama yang besarnya tetap, berdasarkan suku bunga yang berlaku saat ini. Pembayaran kedua belah pihak ini dilakukan untuk periode waktu tertentu berdasarkan pada persentse tertentu dari notional principal (nilai pokok yang diswapkan), Swap model ini muncul karena adanya prediksi bahwa pasar saham akan meningkat dalam waktu 3 tahun mendatang, dengan demikian terdapat perusahaan tertentu ingin menjual obligasi untuk membeli saham, sementara yang lain meramalkan bahwa harga pasar saham akan turun dalam 3 tahun mendatang, sehingga direksi memutuskan menjual saham untuk membeli obligasi. Kedua belah pihak secara efektif merestrukrisasi portofolio yang mereka miliki tanpa harus membayar biaya transaksi, selain imbalan yang relative murah untuk bank swap yang menyiapkan kontrak. Guna memperjelas perilaku kontrak swap ekuitas dapat diasumsikan bahwa PT X bertekat menjual USD.100 juta Obligasi selanjutnya menginvestasikan hasil penjualannya untuk membeli saham. Sedangkan PT. Z mempertimbangkan menjual USD 100 juta saham dan hasilnya diinvestasikan untuk membeli obligasi. Kedua direksi portofolio menyadari bahwa perubahan seperti ini mengeluarkan biaya transaksi yang cukup besar, sebagai konsekwensi kedua direksi tersebut mengontak suatu bank swap untuk menyusun suatu kontrak yang akan berlangsung selama 3 tahun dengan notional principal $ 100 juta, sekaligus menetapkan bahwa jadwal kalkulasinya akan dilakukan tiap kuartalan. Anggaplah bahwa PT X akan membayar kepada PT Z sebesar 3% dari notional principal, sedangkan PT Z akan menyetor kepada PT X. sebesar tingkat pertumbuhan rate of return saham LQ-45. apabila rate of return kuartalan saham LQ-45 dalam tahun pertama sebesar 5%, 3%, -4%, dan 4%. Maka sesuai dengan kesepakatan PT X harus membayar kepada PT Z sebesar $ 3 juta ( 3% x $100 juta), sebaliknya PT Z harus menyetor kepada PT X sbb :
 Kuartal pertama = 5% x $ 100 juta = $ 5 juta
 Kuartal kedua = 3% x $ 100 juta = $ 3 Juta
 Kuartal ketiga = -4% x $ 100 juta = -$ 4 juta
 Kuartal keempat = 4% x $ 100 juta = $ 4 juta
Mengingat procedure pembayaran kontrak swap berdasarkan selisih netto, maka PT Z harus menyetor kepada PT X sbb :
 Kuartal pertama = $ 5 juta – $ 3 juta = $ 2
 Kuartal kedua = $ 3 juta – $ 3 juta = $ 0
 Kuartal ketiga = -$ 4 juta – $ 3 juta = – $ 7
 Kuartal keempat = $ 4 juta – $ 3 juta = $ 1
Perhitungan Swap Ekuitas
Return Pembayaran Membayar Pembayaran Membayar
Kuartal Saham Dari PT X Ke PT Z Netto dari PT Z Ke PT X Netto
Pertama 5% 5.000.000 3.000.000 2.000.000 3.000.000 5.000.000 2.000.000
Kedua 3% 3.000.000 3.000.000 0 3.000.000 3.000.000 0
Ketiga -4% -4.000.000 3.000.000 7.000.000 3.000.000 -4.000.000 7.000.000
Keempat 4% 4.000.000 3.000.000 1.000.000 3.000.000 4.000.000 1.000.000

Sepintas lalu dapat dikatakan bahwa dengan menelusuri teknik dan prosedur teoritis dalam melakukan investasi, seakan tidak mungkin ditemukan para investor yang mengalami kerugian dalam bermain dipasar derivative, mereka senantiasa berhasil meraih nilai tambah yang spektakuler. Namun demikian dalam keseharian harus tetap waspada karena patokan harga aktiva yang dijaminkan dalam pasar derivative sangat tergantung pada keadaan fundamental perusahaan,faktor teknikal dari harga aktiva itu sendiri, faktor sentimen pasar & variable lain yang selalu mempengaruhi harapan investor dalam meraih keberuntungan.
Pengembangan pasar modern ini sungguh sangat membantu likuiditas pasar skunder, sebab selain sebagai alat mengendalikan risiko keuangan, mengurangi risiko kurs valas juga mendorong peningkatan efisiensi pasar keuangan. Untuk itu dirasakan bahwa sosialisasi instrument ini sungguh perlu diangkat, karena dengan tersedianya pasar tambahan, investor yang tertarik membeli surat berhaga derivative akan semakin leluasa merangkai teknik penerapan investasi portofolio yang beresiko minimal, tapi berpeluang meningkatkan hasil pengembalian.
Disatu sisi sengaja disuguhkan suatu kalkulasi bahwa penjabaran analisa derivative selalu dalam konteks yang mengembirakan. Kecendrungan ini muncul akibat dorongan untuk memasyarakat konsep pasar derivative, kendati format rekayasa strategis perlu dipertimbangkan ketika instrument ini menjadi pilihan, dengan harapan akan semakin terbuka akses bagi percepatan pengembangan pasar modal yang pada gilirannya akan mendorong bangkitnya kehidupan sector riel.
Selain itu paparan ini berorientasi pada keinginan untuk mengingatkan para investor bahwa pasar derivative memiliki karakteristik permainan yang sarat dengan nuansa gambling atau tebak tebakan tentang prospek masa depan, untuk itu kudu hati-hatilah.

Daftar Refrensi.
Bodie Zvi, Alex Kane dan Marcus Alan J, Investment, 3rd edition, Irwin 1996
Brigham Eugene F & F Houston Joel, Fundamental of Financial Management, 10th edition, Thomsom South Western, 2004
Fabozzi Frank J, Invesment, 1st edition, Prentice Hall, Inc , 1995
Jeff Madura, Manejemen Keuangan Internasional, terjemahan Emil Salim, edisi 4. penerbit Erlangga Jakarta 1997.
John C Hull, Option, Futures & Other Derivative, 4th Edition, Prentice Hall, Inc , 2000
Keown Arthur J dkk, Basic Financial Manajement, 7th Edition,Prentice Hall , Inc, 1996
Siahaan Hinsa Pardomuan dan Manurung Adler, Aktiva Derivatif, Media Komputindo, 2006.
Salvatore Dominick, International Economics, 5th edition, Prentice Hall , Inc, 1996
Tsetsekos George and Panos Varagis, Research Observer, Word Bank Publication, Philadelpia volume Februari 2000


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: