Oleh: darmawanachmad | 19 Maret 2010

Inflasi Dalam Perspektif Konvensional Dan Islam

Definisi inflasi
Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lainnya . Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai unit penghitungan moneter terhadap suatu komoditas. Menurut para ekonom modern, inflasi berupa kenaikan secara menyeluruh jumlah uang yang harus dibayarkan (nilai unit penghitungan moneter) terhadap barang/komoditas dan jasa . Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.

Indikator Inflasi
• Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator yang umum digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Dilakukan atas dasar survei bulanan di 45 kota, di pasar tradisional dan modern terhadap 283-397 jenis barang/jasa di setiap kota dan secara keseluruhan terdiri dari 742 komoditas.
• Indeks Harga Perdagangan Besar merupakan indikator yang menggambarkan pergerakan harga dari komoditi-komoditi yang diperdagangkan di suatu daerah.

Inflasi diukur dengan tingkat inflasi (rate of inflation) yaitu tingkat perubahan dari tingkat harga secara umum. Notasinya sebagai berikut:

Pada umumnya, pihak yang bertanggung jawab dalam pencatatan statistik perekonomian suatu negara menggunakan Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) sebagai pengukur tingkat inflasi. Namun, dalam perkembangannya metode ini memiliki sejumlah kelemahan, diantaranya adalah karena metode ini menggunakan kumpulan yang mewakili sebuah subset keseluruhan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perekonomian, maka indeks harga tersebut tidak secara akurat merefleksikan seluruh perubahan harga yang terjadi. Selain itu, CPI dan PPI juga kurang dapat mengakomodasi jenis barang dan jasa yang baru diciptakan meskipun kelompok subset barang dan jasa yang digunakan sebagai pengukur CPI dan PPI selalu direvisi dari waktu ke waktu .

Para ekonom cenderung menggunakan Gross Domestic Product Deflator (GDP Deflator) untuk mengukur tingkat inflasi. GDP Deflator adalah rata-rata harga seluruh barang tertimbang dengan kuantitas barang yang dibeli. Penghitungan GDP Deflator dinotasikan sebagai berikut:

Masyarakat yang menggunakan sistem barter dalam pertukaran barang dan jasa tidak akan mengalami inflasi. Gejala yang mungkin terjadi adalah perubahan relatif harga suatu barang (misalnya x) terhadap barang yang lain (misalnya y) atau Px/Py, atau menurut istilah ekonomi, terjadi perubahan term of trade (TOT) suatu kelompok barang terhadap kelompok barang yang lain. Namun, cara itu tidak efisien karena dalam barter harus ada double coincident of needs agar pertukaran barang dapat terjadi. Tanpa keberadaan uang, dibutuhkan banyak sumber daya waktu dan usaha untuk melakukan pertukaran yang saling menguntungkan. Selain itu, banyak modal yang tertanam dalam bentuk persediaan (inventory). Untuk menghindari kesulitan dan ketidakefisienan tersebut, masyarakat setuju menggunakan suatu komoditas umum sebagai media perantara pertukaran yaitu uang .

Bagi masyarakat, uang adalah alat pertukaran yang lazim. Dengan uang, orang dapat memperdagangkan barang dan jasa, dan tidak langsung mempertukarkannya dengan barang dan jasa yang lain. Uang memiliki berbagai macam bentuk dan terbuat dari berbagai bahan, baik dari logam mulia maupun dari bahan yang kurang berharga seperti kertas atau logam biasa. Pada masa kini, nilai intrinsik uang biasanya jauh lebih kecil daripada nilai nominalnya, dan inilah salah satu faktor penyebab inflasi .

Pengendalian inflasi penting dilakukan karena inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat .
Pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin.
Kedua, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah.
Menurut Paul A. Samuelson, berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Moderate inflation, disebut juga “inflasi satu digit”, adalah inflasi dengan karakteristik terjadinya kenaikan harga secara lambat. Pada umumnya, pada tingkat inflasi ini, orang masih mau memegang uang tunai dan menyimpan kekayaannya dalam bentuk uang daripada dalam bentuk aset riil.
2. Galloping inflation, yaitu inflasi yang terjadi pada tingkatan 20% sampai 200% per tahun. Pada tingkatan inflasi ini, orang hanya mau memegang uang seperlunya, dan cenderung menyimpan kekayaan dalam bentuk aset-aset riil. Pasar uang akan mengalami penyusutan dan dana dialokasikan melalui cara-cara selain yang berorientasi pada tingkat bunga. Orang hanya bersedia memberikan pinjaman dengan tingkat bunga yang sangat tinggi. Inflasi jenis ini mengakibatkan terjadinya gangguan serius pada perekonomian karena masyarakat cenderung menyalurkan dananya untuk berinvestasi di luar negeri daripada di dalam negeri (capital outflow).
3. Hyper inflation, yaitu inflasi dengan tingkat sangat tinggi, berkisar antara jutaan persen per tahun. Jika banyak pemerintahan masih sanggup bertahan menghadapi galloping inflation, maka tidak ada yang dapat bertahan menghadapi inflasi jenis ini. Contohnya adalah Weimar Republic di Jerman pada tahun 1920-an .

Dari segi penyebabnya, inflasi dapat digolongkan menjadi:
1. Natural inflation dan Human Error inflation. Natural inflation adlah inflasi yang terjadi karena sebab alamiah yang tidak dapat dicegah oleh manusia, sedangkan human error inflation adalah inflasi yang terjadi karena kesalahan manusia.
2. Actual/anticipated/expected inflation dan unaticipated/unexpected inflation. Pada expected inflation, tingkat suku bunga pinjaman riil sama dengan tingkat suku bunga pinjaman nominal dikurangi inflasi. Hal ini dinotasikan:

Sedangkan pada unexpected inflation, tingkat suku bunga pinjaman nominal belum atau tidak merefleksikan kompensasi terhadap efek inflasi .
3. Demand pull dan cost pust inflation. Demand pull inflation diakibatkan oleh perubahan yang terjadi pada sisi permintaan aggregat (AD) barang dan jasa pada suatu perekonomian, sedangkan cost push inflation terjadi karena adanya perubahan-perubahan pada sisi penawaran agregatif (AS) barang dan jasa pada suatu perekonomian.
4. Spiralling inflation, yaitu inflasi yang diakibatkan oleh inflasi yang terjadi sebelumnya, sementara inflasi yang sebelumnya itu terjadi sebagai akibat inflasi terdahulu, demikian seterusnya.
5. Imported inflation dan domestic inflation. Imported inflation adalah inflasi yang dialami oleh suatu negara karena posisinya sebagai price taker dalam pasar perdagangan internasional. Sedangkan domestic inflation hanya terjadi di suatu negara tanpa mempengaruhi negara-negara lain.
Disagregasi inflasi
• Inflasi Inti
Yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh faktor fundamental, meliputi:
– Interaksi permintaan-penawaran
– Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang
– Ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen
• Inflasi non Inti
Yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Dalam hal ini terdiri dari :
• Inflasi Volatile Food.
Inflasi yang dipengaruhi shocks dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, gangguan penyakit.
• Inflasi Administered Prices
Inflasi yang dipengaruhi shocks berupa kebijakan harga Pemerintah, seperti harga BBM, tarif listrik, tarif angkutan, dll

Determinan Inflasi
Inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi supply (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi.
Faktor-faktor terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara partner dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price) , dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi.
Faktor penyebab terjadi demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian.
Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan (lebaran, natal, dan tahun baru) dan penentuan upah minimum regional (UMR).

INFLASI DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM
Menurut para ekonom Islam, inflasi berakibat sangat buruk bagi perekonomian karena empat hal sebagai berikut :
a. Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, terutama terhadap fungsi tabungan (nilai simpan), fungsi pembayaran di muka, dan fungsi unit penghitungan. Akibat beban inflasi tersebut, orang harus melepaskan diri dari uang dan aset keuangan. Inflasi juga mengakibatkan terjadinya inflasi kembali atau self feeding inflation.
b. Melemahkan semangat masyarakat untuk menabung (turunnya marginal propensity to save).
c. Meningkatkan kecenderungan berbelanja, terutama untuk barang-barang non primer dan mewah (naiknya marginal propensity to consume).
d. Mengarahkan investasi pada hal-hal tidak produktif seperti penumpukan kekayaan berupa tanah, bangunan, logam mulia, dan mata uang asing serta mengorbankan investasi produktif seperti pertanian, industri, perdagangan, dan transportasi.

Ekonom muslim, Taqiuddin Ahmad bin Al Maqrizi (1364M-1441M), salah satu murid Ibnu Khaldun, menggolongkan inflasi menjadi dua macam yaitu:
1. Natural inflation
2. Human Error inflation

1. Natural inflation
Inflasi jenis ini diakibatkan oleh sebab-sebab alamiah yang tidak mampu dikendalikan orang. Menurut Ibn Al Maqrizi, inflasi ini diakibatkan oleh turunnya penawaran agregatif (AS) atau naiknya permintaan agregatif (AD).
Untuk menganalisisnya, dapat digunakan perangkat analisis konvensional, yaitu persamaan identitas berikut:
MV = PT = Y
Dimana:
M : jumlah uang beredar
V : kecepatan peredaran uang
P : tingkat harga
T : jumlah barang dan jasa
Y : tingkat pendapatan nasioanl (GDP)

Natural inflation dapat diartikan sebagai berikut:
• Gangguan terhadap jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu perekonomian (T). Misalnya sedangkan M dan V tetap, maka konsekuensinya .
• Naiknya daya beli masyarakat secara riil. Misalnya, nilai ekspor lebih besar daripada nilai impor, sehingga secara netto terjadi impor uang yang mengakibatkan sehingga jika V dan T tetap maka .

Lebih jauh dapat dianalisis dengan persamaan berikut:
AD = AS
Dan
AS = Y
AD = C + I + G + (X – M)
Dimana:
Y : pendapatan nasional
C : konsumsi
I : investasi
G : pengeluaran pemerintah
(X-M) : Net export
maka:
Y = C + I + G + (X – M)

Berdasarkan penyebabnya, natural inflation dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
a. Akibat uang yang masuk dari luar negeri terlalu banyak, dengan ekspor meningkat sedangkan impor menurun . Nilai net export yang sangat besar menyebabkan naiknya permintaan agregatif . Hal ini dapat ditunjukkan oleh grafik berikut:

Hal ini pernah terjadi semasa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra. Pada masa itu, kafilah dagang yang menjual barang di luar negeri membeli barang dari luar dengan nilai lebih sedikit daripada nilai barang yang mereka jual (positive net export). Kondisi ini mendatangkan uang lebih yang dibawa pulang ke Madinah sehingga pendapatan dan daya beli masyarakat naik , atau pada grafik dilukiskan sebagai kurva AD yang bergeser ke kanan, mengakibatkan naiknya tingkat harga secara keseluruhan .
Untuk mengatasi masalah tersebut, Khalifah Umar melarang penduduk Madinah membeli barang atau komoditi selama 2 hari berturut-turut. Akibatnya, permintaan agregatif turun . Setelah pelarangan tersebut berakhir, harga kembali normal.

b. Akibat turunnya tingkat produksi karena paceklik, perang, embargo dan boikot. Hal ini dapat digrafikkan sebagai berikut:

Hal ini juga pernah terjadi semasa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra. Ketika itu terjadi kelangkaan gandum, yang pada grafik digambarkan dengan kurva AS yang bergeser ke kiri , mengakibatkan naiknya tingkat harga . Untuk mengatasinya, Khalifah Umar ra mengimpor gandum dari Fustat, Mesir sehingga penawaran agregatif (AS) barang di pasar kembali naik yang mengakibatkan turunnya tingkat harga-harga .

2. Human Error inflation
Di luar penyebab yang tergolong natural inflation, inflasi yang terjadi tergolong human error inflation atau false inflation. Dalam hal ini yang diakibatkan kesalahan manusia (sesuai dengan QS 30:41).
Human error inflation disebabkan tiga hal berikut:
a. Korupsi dan administrasi yang buruk (corruption and bad administration)
b. Pajak yang berlebihan (excessive tax)
c. Pencetakan uang dengan maksud menarik keuntungan secara berlebih (excessive seignorage).

Korupsi dan administrasi yang buruk
Sesuai dengan persamaan MV=PT, korupsi akan mengganggu tingkat harga karena para produsen akan menaikkan harga jual produknya untuk menutupi biaya ”siluman” yang telah dikeluarkan. Biaya siluman tersebut mereka masukkan ke dalam COGS (cost of good sold). COGS mendorong ATC dan MC naik ke ATC2 dan MC2 sehingga harga jual pada keadaan normal profit naik dari P menjadi P2. Artinya, COGS tidak merefleksikan nilai sumber daya yang sebenarnya yang digunakan dalam proses produksi. Harga terdistorsi oleh komponen yang seharusnya tidak ada. Hal ini menyebabkan terjadinya ekonomi biaya tinggi (high cost economy) dan pada akhirnya terjadi inefisiensi alokasi sumber daya yang merugikan masyarakat.
Jika merujuk pada persamaan AS-AD, terlihat korupsi dan administrasi pemerintahan yang buruk menyebabkan kontraksi pada kurva penawaran agregatif .
Inflasi yang disebabkan adanya “biaya Siluman”

Selain menyebabkan inefisiensi dan ekonomi biaya tinggi, korupsi dan kelemahan administrasi sangat membahayakan perekonomian yakni terjerat pada spiralling inflation atau hyper inflation.

Pajak yang berlebihan (excessive tax)
Efek yang ditimbulkan oleh pajak yang berlebihan pada perekonomian hampir sama dengan efek yang ditimbulkan oleh korupsi dan administrasi yang buruk yaitu kontraksi pada kurva penawaran agregatif . Namun, jika dilihat lebih jauh, excessive tax mengakibatkan apa yang dinamakan para efficiency loss atau dead weight loss.

Pencetakan uang untuk menarik keuntungan (excessive seignorage)
Arti tradisional seignorage adalah keuntungan yang didapat oleh percetakan dari pencetakan koin. Biasanya percetakan tersebut dimiliki oleh pihak penguasa atau kerajaan. Tindakan seignorage ini juga merupakan salah satu penyebab inflasi. Milton Friedman, seorang ekonom monetaris terkemuka mengatakan,”Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon.” Para otoritas moneter di negara-negara Barat umumnya meyakini bahwa pencetakan uang akan menghasilkan keuntungan bagi pemerintah (inflation tax). Hal tersebut sesuai dengan persamaan berikut:
Real revenue from printing money
dengan ketentuan adalah tingkat pertumbuhan uang. Nilai yang tinggi akan menyebabkan tingkat inflasi yang tinggi, sehingga implikasinya adalah suatu nilai nominal yang lebih tinggi pula dari tingkat suku bunga . Oleh karena itu, disimpulkan bahwa suatu tingkat pertumbuhan uang yang tinggi akan menghasilkan tingkat pajak yang lebih tinggi pula dari pajak memegang uang (tax for holding money).
Di pihak lain, ekonom Muslim Ibn Al Maqrizi berpendapat bahwa pencetakan uang yang berlebihan jelas akan mengakibatkan naiknya tingkat harga secara keseluruhan (inflasi). Menurutnya, kenaikan harga-harga komoditas adalah kenaikan dalam bentuk jumlah uang (fulus) atau nominal, sedangkan jika diukur dengan emas (dinar emas), harga-harga komoditas tersebut jarang sekali mengalami kenaikan. Ibn Al Maqrizi berpendapat bahwa uang sebaiknya dicetak hanya pada tingkat minimal yang dibutuhkan untuk transaksi (jual-beli) dan dalam pecahan yang mempunyai nilai nominal kecil (supaya tidak ditimbun).

Jakarta, 19 Februari 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: