Oleh: darmawanachmad | 19 Maret 2010

Kasus Inflasi Dalam Kenyataan

Inflasi adalah kenaikan harga secara umum, atau inflasi dapat juga dikatakan sebagai penurunan daya beli uang. Makin tinggi kenaikan harga makin turun nilai uang. Defenisi diatas memberikan makna bahwa, kenaikan harga barang tertentu atau kenaikan harga karena panen yang gagal misalnya, tidak termasuk inflasi.
Ukuran inflasi yang paling banyak adalah digunakan adalah: Consumer price indeks” atau “ cost of living indeks”. Indeks ini berdasarkan pada harga dari satu paket barang yang dipilih dan mewakili pola pengeluaran konsumen. Barang-barang dalam paket itu dibobot sesuai dengan kepentingan relatifnya bagi konsumen. Dan data harga diperoleh dalam bentuk indeksasi. Indeks yang lain juga dapat diperoleh dari “deflatoir GNP pada harga konstan”. Kelebihan indeks ini bukan hanya memperhitungkan harga barang konsumen tetapi juga harga barang kapital dan barang ekspor.
Inflasi adalah masalah seluruh dunia. Namun berdasarkan data negara yang sedang berkembang, yang lebih banyak pengalamannya dalam hal ini inflasi dibanding dengan negara industri. Penyebaran inflasi keseluruh dunia terjadi oleh karena adanya mekanisme perdagangan keuangan yang saling berkaitan antara negara dunia.
Inflasi merembes keseluruh dunia dengan bebas. Kenaikan harga minyak empat setengah kali pada tahun 1973 – 1974 telah meningkatkan laju inflasi dunia dengan cepat pada tahun 1974 – 1975. Demikian juga perluasan “money supply” dunia pada tahun 1970 an telah mendorong inflasi. Kenyataan ini adalah akibat kekakuan “exchange rate”. Bila exchange rate (nilai tukar), fleksibel sempurna maka inflasi dapat dihindari. Sebaliknya kebanyakan negara dunia memiliki tingkat penukaran mata uang asing (exchange rate) yang tidak fleksibel, sehingga inflasi tak dapat dihindari.
Generalisasi seperti ini tentu ada kecualinya, yaitu negara yang mempunyai sistem perencanaan sentral di Eropa Timur atau Uni Soviet (tempo dulu). Pada negara-negara ini harga ditetapkan oleh pemerintah pusat (secara administratif). Jadi bukan karena permainan permintaan dan penawaran. Ini tidak berarti bahwa permintaan tidak pernah melebihi penawaran. Bila kenyataan ini juga terjadi maka penjatahan atau antri dapat diberlakukan terhadap produksi, sebelum penawaran ditingkatkan.
Bahkan kadang-kadang dengan memberikan subsidi. Keadaan seperti ini disebut “represed inflation”. Kelebihan permintaan diatas jumlah barang yang ditawarkan dikontrol oleh negara dan kenaikan harga dapat ditekan.
Inflasi dinegara-negara berkembang belahan barat didominasi oleh Amerika Latin (terutama Argentina, Chili, dan Uruguay). Salah satu negara di Asia yang telah mengalami inflasi hebat atau “hyperyinflation” adalah Indonesia yaitu tahun 1963 – 1971 dimana indeks harga telah naik dari 1000 menjadi 71797.
Berhubung kebanyakan negara yang menganut sistem ekonomi campuran, harga ditentukan oleh mekanisme pasar atau interaksi “supply” dan “demand” maka penyebab inflasi dapat diketahui dari dua hal atau dua sisi yaitu sisi demand dan sisi supply. Bila inflasi disebabkan oleh demand yang berlebihan disebut “demand pull inflation” sebaliknya bila yang ditekankan dari segi supply disebut ”cost push inflation”.
Inflasi yang terjadi karena kelebihan permintaan tersebut tergantung pula pada elastisitas supply. Bila elastisitas supply besar maka kenaikan harga itu akan diimbangi dengan kenaikan produksi sehingga kenaikan harga hanya terasa sedikit sekali. Dalam jangka pendek bila terdapat kapasitas menganggur (produksi bekerja dibawah kapasitas yang tersedia) dan devisa cukup banyak, maka kenaikan permintaan akan mendorong kenaikan produksi dan mendorong pula kenaikan barang impor. Dengan kata lain pengaruh kenaikan permintaan lebih besar pengaruhnya terhadap kenaikan produksi dibanding dengan jenaikan harga. Jadi “demand pulled inflation” akan lebih berbahaya bila terdapat “constrain” dalam hal devisa dan ekonomi telah berada pada posisi yang hampir “ full employment”.
Kesimpulan dari uraian diatas bahwa:
1. Pengaruh kenaikan demand pada situasi deflasi akan mendorong kenaikan produksi, employmen dan pendapatan.
2. Pengaruh kenaikan demand pada situasi ekonomi yang hampir full kapasitas akan mendorong kenaikan harga.
Dilain pihak ahli moneter menganggap bahwa inflasi adalah gejala jumlah uang yang diminta akan mendorong kenaikan permintaan terhadap barang dan jasa. Dan didalam ekonomi yang beroperasi pada tingkat hampir “full employmen” hasilnya adalah demand pulled inflation”
Pada tingkat harga dan institusi tertentu permintaan uang adalah fungsi dari variabel berikut:
1. Tingkat pendapatan real
2. Perluasan moneterisasi terhadap aktivitas ekonomi (ditunjukkan oleh rasio monetary GNP dengan non monetary atau subsistence GNP).
3. Kegunaan memegang uang (the net utility of holding money)
Adapun fungsi permintaan uang adalah sebagai berikut:
MD = f(Y, Z, U) dimana; MD = demand for money
Y = GNP real
Z = ratio of monetary to non monetary activity
U = net utility of holding money
Karena pemahaman U adalah lebih kompleks maka disini perlu diperluas dengan fungsi berikut :
U = f(V, R, X) dimana;
V = convenience value of holding money balance
R = tingkat bunga bank
X = tingkat inflasi yang diperkirakan
Makin besar “convenience of holding money” makin tinggi net unility of holding money”. Demikian pula makin tinggi tingkat bunga makin tinggi net utility of holding money. Sebaliknya karena inflasi adalah ”cost dari holding money” maka makin tinggi tingkat inflasi yang diharapkan makin rendah utility of holding money. dIsini hubungan antara U dan R merupakan fungsi negatif. Jadi ”net utility of money” terdiri dari “convenience value” (tambah tingkat bunga yang dibayar dikurangi “the expected rate of inplation” (tingkat inflasi yang diperkirakan).
1) Pandangan struktural
Perubahan sturuktural tak dapat dipisahkan dengan pembangunan ekonomi. Peningkatan pendapatan membawa perubahan pada komposisi dan struktur output. Ketidak seimbangan antara demand dan supply tak dapat dihindari. Demikian juga halnya bila terdapat kelangkaan devisa disektor perdagangan luar negeri. Keperluan impor tak dapat dipenuhi dengan devisa yang langka hal ini mendorong kenaikannya harga-harga.
Ilustrasi khusus keadaan seperti ini adalah ketidakseimbangan yang terjadi pada produksi bahan makanan. Karena produksi disektor pertanian sering tidak elastis maka kenaikan demand menyebabkan kenaikan harga yang lebih besar sebelum terjadi respond output. Padahal harga bahan makanan ini cenderung mempengaruhi harga secara umum. Harga barang disektor industri terdorong naik karenanya, sebagai keberhasilan tuntutan “trade unions” untuk melindungi para pekerja dari kenaikan harga bahan makanan. Demikian pula biaya dimana inputnya berasal dari sektor pertanian mengalami kenaikan
Satu pemecahan dari keadaan seperti ini ialah dengan mengimpor barang-barang, namun kebanyakan negara berkembang kekurangan devisa.
Anggota aliran strukturalis menekankan pada pendapatan ekspor yang tertinggal dibelakang keperluan impor, karena lambatnya ekspansi permintaan dunia terhadap barang-barang primer yang dihasilkan oleh negara-negara yang sedang berkembang. Hambatan tambahan yang memperburuk keadaan ialah sikap negara industri yang tidak menginginkan ekspor hasil industri dari negara berkembang.
Kesimpulan teori ini menyatakan sebuah postulat bahwa inflasi akan menemani pembangunan ekonomi oleh karena adanya ketidakseimbangan yang diciptakan oleh perubahan struktural.
2) Dinamika Inflasi
Didalam perekonomian terdapat kekuatan-kekuatan mekanisme yang menopang inflasi. Fakta menyatakan bahwa inflasi itu mempengaruhi distribusi pendapatan real. Upah mungkin menjadi tertinggal dibanding harga. Keuntungan pengusaha tertekan kebawah karena kenaikan biaya. Hal ini menurunkan pendapatan real pemilik modal. Tuan tanah menerima lebih sedikit. Anggaran pemerintah menderita karena pajak yang diterima menurun. Dalam menghadapi kenyataan ini semua kelompok-kelompok tertentu mencoba melindungi kepentingannya. “Trade unions” mencoba mempertahankan upah real dengan keras. Pemilik modal berupaya untuk meningkatkan profitnya. Pemerintah mencoba mengatasi pengeluarannya dengan meminjam dari bank. Secara keseluruhan tindakan ini telah turut memompa jumlah uang yang lebih besar lagi di dalam perekonomian. Hasil yang sama dapat juga terjadi karena menurunnya disiplin keuangan yang mempersukar kontrol terhadap anggaran. Interaksi antara kelompok-kelompok untuk mempertahankan kepentingannya telah membawa kepada “the dinamic of inflation”. Tindakan setiap kelompok dengan respondnya masing-masing telah membawa kenaikan harga lebih jauh. Salah satu contoh adalah “anggregate spiral”.
Contoh ini lebih relevan dengan negara industri dibanding negara berkembang. Diasumsikan upah harga naik karena suatu alasan, misalnya karena kenaikan harga barang. Jika trade unions mengorganisir tenaga kerja maka mereka dapat menuntut upah yang lebih tinggi. Akibat dari tindakan ini harga naik lagi karena biaya yang meningkat, yang selanjutnya mendorong lagi tuntutan baru terhadap upah dan demikian seterusnya, upah dan harga saling mengejar antara satu dengan yang lain.
Kekuatan lain yang berasal dari sistem moneter. Seperti diketahui perkiraan terhadap inflasi menurunkan net utility dari pemegang uang. Akibat menurunkan permintaan terhadap uang dan mendorong kembali kenaikan harga dan mempercepat laju inflasi. Demikian seterusnya orang-orang selalu berusaha untuk meminimalkan jumlah uang yang dipegangnya dan terus akan meningkatkan harga.
Kesimpulan “Money flight” terjadi ketika inflasi demikian cepatnya menurunkan daya beli uang, sehingga orang-orang mengurangi uang yang dipegangnya sedapat mungkin dan memilih untuk memiliki barang. Permintaan uang menurun dan permintaan barang meningkat. Sementara supply barang menurun. Kenyataan ini dapat menimbulkan spiral inflasi kumulatif. Sejak tahun 50-an beberapa negara berkembang mempunyai pengalaman dengan hyperiflation.
Mengapa Pemerintah Memperkenankan Inflasi.
Sejak money supply sebagian dikontrol oleh pemerintah, maka sering timbul pertanyaan mengapa pemerintah membiarkan money supply cepat meluas, sementara kestabilan harga dapat terganggu karenannya. Sesungguhnya pengeluaran pemerintah sendirilah yang kerapkali menjadi sumber ekspansi moneter. Padahal inflasi tidak disukai dan mereka sering berkata bahwa kestabilan harga adalah salah satu tujuan yang ingin dicapai.
Bagaimana menjelaskan seperti ini.
Jawaban pertanyaan diatas barangkali terletak pada ukuran inflasi mana yang dianggap moderat walaupun tidak populer. Keberadaan tingkat pengangguran yang tinggi adalah salah satu alasan untuk maksud ini. Pada pertengahan tahun 70-an di negara industri Barat mengalami stagflasi dimana tingkat inflasi tinggi terjadi secara bersama-sama dengan tingkat pengangguran yang tinggi. Ini adalah salah satu situasi dimana pemerintah mengalami kesulitan untuk mengontrol karena harga naik bersamaan dengan kurangnya pekerjaan. Memilih salah satunya cenderung memperburuk keadaan keduanya. Namun untuk negara-negara yang sedang berkembang kombinasi antara tingkat pengangguran yang tinggi dengan inflasi merupakan kondisi yang seakan permanen. Inflasi dengan kurangnya kesempatan kerja merupakan karakteristik dari negara yang sedang berkembang.
Adapun peralatan yang digunakan untuk mengatasi inflasi adalah sebagai berikut :
– Berupaya menurunkan total demand dengan menurunkan anggaran pemerintah.
– Membatasi kredit.
– Meningkatkan pajak yang sering memperburuk tingkat pengangguran.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: