Oleh: darmawanachmad | 19 Maret 2010

Nasionalisme Ekonomi adalah Petaka Kemanusiaan.

Ludwig von Mises dalam satu kuliahnya pernah mengatakan bahwa di jaman modern ini perang-perang besar telah terjadi sebagai hasil mentalitas atau cara pandang tertentu terhadap ekonomi. Perang dunia kedua tentunya bukan perang antara kaum kulit putih dengan kulit berwarna, sebab tidak ada perbedaan ras yang membedakan bangsa-bangsa Ingris, Belanda dan Norwegia dari orang-orang Jerman, Prancis, Italia atau Jepang. PD II bukan pula perang antaragama, bukan pula antara demokrasi dan kediktatoran, melainkan perang yang pecah akibat bertubrukannya berbagai kepentingan ekonomi nasional.
Argumen tersebut bukan justifikasi terhadap kebijakan perang negara-negara agresor; Mises memakainya untuk menjelaskan bahwa sebagai cara ekonomi untuk pencapaian manfaat ekonomi tertentu, agresi dan penaklukan wilayah merupakan kebijakan yang self-defeating. Pun seandainya cara ini dapat berhasil dalam jangka pendek, kebijakan tersebut dalam jangka panjang tidak akan pernah membawa kepada hasil yang diharapkan oleh para agresor. (Dalam artikel yang ia tulis kurang dari setahun sebelum kemerdekaan Indonesia tersebut ia mengadvokasikan cara ekonomi terbaik dalam menghindari perang; silakan baca betapa semakin relevannya analisisnya bagi kondisi jaman sekarang!)
Cara pandang ekonomis tertentu sebagai salah satu faktor terpenting pemicu perang antar bangsa ini adalah nasionalisme ekonomi.
Nasionalisme ekonomi, atau keyakinan bahwa negara atau bangsa dapat berekonomi, bersumber pada dua kekeliruan konseptual: pertama, keyakinan tentang adanya perekonomian nasional; kedua, doktrin yang mengajarkan secara keliru bahwa sebuah bangsa dapat menjadi makmur secara ekonomi hanya di atas kerugian bangsa-bangsa lain (teori darwin).
Sebagai personifikasi yang sudah tidak asing lagi bagi suatu bangsa, “perekonomian nasional” awal mula menganalogikan sebuah bangsa dan negara dengan perusahaan, lalu melompat jauh bahkan hingga mengibaratkan negara layaknya individu, yang mampu melakukan tindakan ekonomi.
Pada kenyataannya, sebagaimana dikatakan oleh Faustino Ballve, konsep perekonomian nasional serta doktrin tersebut ilusi terbesar dalam konteks penyelenggaraan kehidupan bersama. Konsep perekonomian nasional atau kemakmuran nasional tidak memiliki eksistensinya di bumi ini!
Sebuah bangsa tidak pernah benar-benar memiliki properti apapun (sumber daya yang dipakai pemerintah terdiri atas apa saja yang diperlukannya untuk menjalankan fungsi pemerintahan) dan tidak ada bangsa yang kaya atau miskin, sebab atribut-atribut ini hanya berlaku bagi individu-individu.
Di lain pihak, doktrin yang keliru tentang penciptaan kemakmuran di atas berawal dari cara pandang terhadap transaksi ekonomi sebagai sebuah zero sum game, semacam pertandingan olahraga atau semacam permainan dengan keniscayaan keharusan adanya pemenang dan pecundang. Pandangan ini bergabung dengan politik identitas hingga mencuatkan semangat intervensif. Demikian pula halnya dengan satu ilusi lain yang bernama solidaritas ekonomi. Istilah ini tidak lain sebagai varian perekonomian nasional yang mengadvokasikan autarki, di mana bangsa-bangsa harus menutup diri agar tidak bertransaksi dengan bangsa-bangsa lain.
Realitas sesungguhnya adalah bahwa hanya individu-individu sajalah yang berekonomi. Bangsa-bangsa tidak dapat melakukan perdagangan. Seperti dikatakan Ballve, perdagangan tidak berlangsung antarnegara; dia hanya terjadi antarmanusia melintasi batas-batas nasional.
Semua fallacies yang tersirat di atas sebenarnya telah dicoba digugurkan oleh para ekonom klasik. David Ricardo, misalnya, melalui teori comparative advantage-nya, berhasil mematahkan mitos tentang modus perekonomian antarbangsa. Ia membuktikan bahwa kerjasama perekonomian antarnegara, bahkan ketika salah satu pihak pelaku transaksi ekonomi tersebut lebih unggul dalam semua hal dibandingkan pihak lainnya, suatu relasi ekonomi yang timbul akan tetap sama-sama menguntungkan, win-win. (Teori Ricardo tidak perlu lagi dijabarkan di sini, sebab telah disarikan dalam artikel ini.)
Patut disayangkan, memang, bahwa ekonom klasik tidak sepenuhnya berhasil membebaskan pandangan dari mitos perekonomian nasional. Indikasi ini terlihat pada buku karangan Adam Smith, The Wealth of Nations. Padahal, seperti diakui Ballve, Smith justru menggarisbawahi sistem ekonomi yg sifatnya anti nasionalistik.
Tapi yang lebih disayangkan, perkembangan teori ilmu ekonomi modern, alih-alih berupaya meneruskan tilikan klasik yang fundamental ini terhadap perekonomian, justru cenderung semakin menjauh dari tugas tersebut; ilmu ekonomi modern bahkan semakin membawa kemanusiaan, terutama melalui advokasi ke pemerintahan yang kini menjadi aktor utama pengendali perekonomian, kembali ke jaman merkantilisme.
Mengingat semakin signifikannya kontribusi tilikan ekonomi modern di jaman kita, maka nasionalisme mau tidak mau lebih tepat dilihat sebagai liabilitas, ketimbang modal sosial. Dia bahkan menjadi ancaman bagi kemanusiaan.
Jakarta, 17 Februari 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: