Oleh: darmawanachmad | 21 Maret 2010

Membongkar Kerusakan Teori Inflasi Moderat

Secara historis, inflasi merupakan masalah ekonomi yang dominan disamping masalah pengangguran yang sudah sejak lama dihadapi oleh masyarakat dunia. Sejarah menunjukkan bahwa salah satu negara yang ditandai dengan kenaikan harga secara cepat adalah Mesir di sekitar tahun 330 SM. Menurut Samuelson persoalan inflasi adalah setua usia perekonomian pasar.
Inflasi merupakan sebuah fenomena ekonomi yang banyak mendapat perhatian, sekaligus ditakuti dan dianggap sebagai musuh nomor satu oleh banyak kalangan, mulai dari ekonom, pemerintah, pengusaha, hingga masyarakat awam sekalipun. mengingat dampak dari inflasi yang sangat merugikan.
Dampak merugikannya inflasi dapat disimak dari sejumlah perkataan yang dilontarkan oleh ekonom dan pejabat pemerintahan. Ronald Reagen misalnya, sebagaimana dikutip oleh The Economist (22/5/2009) pernah menyebut inflasi dengan sebutan kejam, perampok, menakutkan, perampok bersenjata, mematikan, dan pembunuh bayaran.
Banyak upaya telah dilakukan untuk memerangi inflasi, namun tak kunjung ada tanda-tanda penyelesaian. Seolah-olah menggambarkan inflasi bagaikan makhluk hidup yang mempunyai mekanisme pertahanan sendiri dari serangan makhluk hidup lainnya sehingga tidak bisa dimusnahkan. kondisi ini tentunya mustahil karena inflasi sendiri hanyalah sebuah fenomena, bukan makhluk hidup.
Berbagai kajian dan teoripun telah banyak dihasilkan oleh para ekonom sebagai solusi dari persoalan inflasi. Dalam hal ini, terdapat tiga teori utama yang menjelaskan mengenai inflasi, yaitu sebagai berikut:
a. Teori kuantitas atau persamaan pertukaran dari Irving Fisher MV=PQ. Teori ini sejatinya merupakan pandangan dari teori klasik. Menurut persamaan ini sebab naiknya harga barang secara umum yang cenderung akan mengarah pada inflasi ada tiga: sirkulasi uang atau kecepatan perpindahan uang dari satu tangan ke tangan yang lain begitu cepat (masyarakat terlalu konsumtif), terlalu banyaknya uang yang dicetak-edarkan ke masyarakat, dan turunnya jumlah produksi secara nasional.
b. Teori Keynes yang menyatakan bahwa inflasi terjadi disebabkan masyarakat hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Dengan kata lain, inflasi terjadi karena pengeluaran agregat terlalu besar. Oleh karena itu, solusi yang harus diambil adalah dengan jalan mengurangi jumlah pengeluaran agregat itu sendiri (mengurangi pengeluaran pemerintah atau dengan meningkatkan pajak, dan kebijakan uang ketat).
c. Teori strukturalis atau teori inflasi jangka panjang. Teori ini menyoroti sebab-sebab inflasi yang berasal dari kekakuan struktur ekonomi, khususnya kekuatan suplai bahan makanan dan barang-barang ekspor. Karena sebab-sebab struktural pertambahan barang-barang produksi ini terlalu lambat dibanding dengan pertumbuhan ekonominya, sehingga menaikkan harga bahan makanan dan kelangkaan devisa. Akibat selanjutnya adalah kenaikan harga-harga barang lain, sehingga terjadi inflasi yang relatif berkepanjangan bila pembangunan sektor penghasil bahan pangan dan industri barang ekspor tidak dibenahi atau ditambah.
Adapun berkaitan dengan penyebab atau sumber inflasi, para ekonom telah berhasil menganalisanya dan mengklasifikasikannya ke dalam beberapa kelompok. Hanya saja, berbeda halnya dengan hasil analisa ekonom terhadap penyebab dari inflasi yang cukup mendalam, solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan permasalahan inflasi tampak sangat dangkal. Meskipun dalam aspek kajian dan teori yang telah dihasilkan para ekonom untuk menjelaskan inflasi sudah cukup banyak.
Sebagai buktinya dapat dilihat dari konsep fractional reserve requirement system yang selama ini dijalankan oleh bank sentral. Fractional reserve requirement system adalah suatu sistem perbankan di mana bank mempertahankan rasio aktiva cadangan sebagai penjamin bagi sebuah bank bahwa mereka mempunyai likuiditas yang cukup untuk menghadapi permintaan uang tunai dari nasabah yang bisa timbul secara mendadak atau mendesak.
Padahal konsep ini sudah banyak mendapat kritikan yang sangat tajam dari banyak ekonom muslim. Dengan konsep ini pihak perbankan dapat mencetak atau turut menggandakan uang menjadi lebih besar yang kemudian mempengaruhi jumlah uang beredar di masyarakat dan pada akhirnya mengakibatkan inflasi. Dapat berjalannya konsep ini karena didukung oleh konsep interest, fiat money dan lembaga keuangan itu sendiri (bank).
Tetapi apa yang dilakukan oleh ekonom dan bank sentral? Pada satu sisi, para ekonom ekonomi konvensional berpendapat bahwa, salah satu penyebab dari inflasi adalah jumlah uang beredar yang tinggi dibandingkan jumlah barang dan jasa yang ada di pasar. Namun di sisi lain, mengapa konsep fractional reserve ini masih saja diterapkan yang notabene adalah salah satu inti dari permasalahan itu sendiri yang dapat menambah secara cepat JUB? Satu-satunya jawaban rasional mengapa konsep itu terus dijalankan adalah demi menjaga kepentingan pemilik bank. Dengan konsep fractional reserve, pemilik bank dapat meminjamkan dana yang dimilikinya kepada unit defisit dengan imbalan sejumlah bunga yang telah ditetapkan. Keuntungan yang didapatkan pihak bank dengan membungakan uang ini sangatlah besar.
Hal inilah sebenarnya yang dikutukoleh Sir Josiah Stamp (1941). Ia mengatakan Sistem perbankan modern menciptakan uang tanpa modal. Proses ini kemungkinan adalah ciptaan paling luar biasa yang pernah ditemukan. Perbankan dilahirkan dalam ketidaksetaraan dan dosa. Bankir memiliki dunia. Anda bisa mengambil apapun dari mereka, tetapi biarkan hak untuk menciptakan uang mereka, maka dengan sebatang pena mereka akan menciptakan cukup uang untuk membeli semuanya kembali…Ambillah kekuasaan besar ini dari tangan mereka, maka semua kekayaan besar seperti yang saya miliki akan lenyap, dan akan ada sebuah dunia yang lebih baik untuk hidup. Tetapi bila anda ingin terus menjadi budak dari bank dan membayar harga dari perbudakan, biarkanlah para bankir terus menciptakan uang dan mengontrol kridit.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa, apa yang dilakukan oleh para ekonom konvensional selama ini hanyalah tampak seperti menjelaskan (eksplanasi) bagaimana fenomena inflasi itu terjadi dengan sangat bagus, tetapi tidak bisa menghapus atau menghilangkan.
1. Dampak inflasi terhadap sektor riil
Sama halnya dalam hal menjelaskan penyebab inflasi, ketika menganalisa dampak dari inflasi para ekonom ekonomi konvensional juga tampak memiliki pengamatan yang cukup mendalam.
Menurut mereka dampak inflasi sangatlah merugikan bagi setiap kalangan, terutama adalah bagi masyarakat yang berpendapatan tetap seperti halnya para pensiunan, pegawai kecil, dan guru.
Para ekonom konvensional secara umum membagi inflasi berdasarkan tingkat besarnya keparahan (daya rusak) menjadi empat jenis yaitu, inflasi ringan (creeping inflation/dibawah 10%), inflasi sedang atau menengah (galloping inflation/antara 10-30%), inflasi tinggi atau berat (high inflation/30- 100%), dan inflasi sangat tinggi (hyper inflation/di atas 100%).
Labih lanjut, para ekonom konvensional percaya bahwa, efek atau dampak inflasi tergantung pada apakah inflasi tersebut diantisipasi atau tidak.
Makna dari inflasi terantisipasi (anticipated inflation) adalah ketika harga mengalami kenaikan secara relatif (misalkan 10%) setiap tahun, dan pada saat bersamaan juga terjadi kenaikan pada tingkat upah dan suku bunga riil sebesar 10%. Dengan demikian, perubahan harga yang terjadi hanyalah merupakan perubahan ukuran di mana masyarakat atau pemerintah telah menyesuaikan (mengantisipasi tingkat inflasi yang terjadi). Sebaliknya, inflasi yang tidak terantisipasi atau tidak terduga (unanticipated inflation) adalah inflasi di mana kenaikan harga barang yang terjadi tidak diikuti dengan kenaikan upah dan suku bunga riil.
Berdasarkan klasifikasi di atas (inflasi terduga dan tak terduga), inflasi yang sering terjadi secara faktual adalah inflasi yang tidak terduga. Hal ini dapat diketahui dari sejarah perjalanan ekonomi dunia.
Dampak inflasi itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu: dampak dari segi ekonomi dan dampak dari segi sosial. Berikut di bawah ini adalah dampak dampak inflasi menurut para ekonom.
a. Dari sudut ekonomi, inflasi mengakibatkan terjadinya redistribusi pendapatan dan distorsi harga, distorsi penggunaan uang, serta distorsi pajak.
b. Dari sudut sosial, akibat lanjut dari redistribusi pendapatan adalah kecemburuan sosial yang semakin tinggi dan bahkan dapat memicu kerusuhan atau krisis sosial (penjarahan dan perampasan).
Pembahasan dampak inflasi di atas adalah pembahasan secara umum. Adapun dampak inflasi terhadap sektor riil secara khusus adalah akan menghambat atau mengganggu proses pertumbuhan di sektor riil. Hal ini dikarenakan, dengan terjadinya inflasi maka tingkat pembelian masyarakat (permintaan agregat) akan mengalami penurunan dan selanjutnya penurunan ini akan menyebabkan pihak produsen harus mengurangi tingkat produksi (output) yang berujung kepada pemutusan hubungan kerja dan bertambahnya pengangguran (unemployment).
Selain itu, di saat terjadi inflasi yang tinggi maka suku bunga yang ditetapkan otoritas moneter juga meningkat. Oleh karena itu, sektor riil pada saat suku bunga tinggi mengalami kesulitan dana baik untuk meningkatkan produksi atau mengembangkan usahanya karena semakin tingginya dalam biaya modal.
Disisi lain, unit surplus lebih tertarik menyimpan dananya di bank dengan tingkat pengembalian (rate of return) yang lebih besar dan pasti dan pada saat yang sama, bank umum yang sudah memiliki banyak dana dari pihak unit surplus enggan untuk menyalurkan dananya ke sektor riil karena adanya permasalahan (aturan perburuhan, pajak, pungutan-pungutan, dsb) pada sektor riil dan lebih tertarik untuk menyimpan dananya di bank sentral. Akibatnya adalah tidak berfungsinya tugas intermediasi oleh bank umum dan terjadi penumpukan dana di bank sentral. Fakta inilah yang terjadi pada tahun 2007 dimana dana yang terkumpul di bank Indonesia (BI) berjumlah sebesar ratusan triliunan rupiah.
Skema Interaksi Antara Sebab dan Akibat Inflasi

Sumber: Diolah sendiri dari beberapa sumber
Labih lanjut, para ekonom konvensional juga percaya bahwa, dari ke empat jenis inflasi tersebut (tingkat besarnya keparahan atau daya rusak), yakni inflasi ringan akan memberikan pengaruh kepada kondisi ekonomi secara positif. Bahkan dikatakan ketiadaan inflasi menandakan tidak adanya pergerakan positif dalam perekonomian karena relatif harga-harga tidak berubah sehingga melemahkan sektor industri. Pendapat ini didasarkan pada beberapa alasan, yaitu: pertama, ketika terjadi kenaikan harga relatif barang, para produsen lebih bergairah dalam menjalankan dan meningkatkan produksinya. Kedua, dengan meningkatnya produksi maka dapat menciptakan lapangan kerja baru. Benarkah anggapan demikian?
Anggapan di atas dapat kita telaah dari dua sisi, yaitu sisi konsumen dan produsen. Dilihat dari sisi konsumen, meskipun tingkat inflasi yang terjadi adalah ringan akan tetap memberatkan. Terutama bagi orang-orang yang miskin dan sekaligus tidak memiliki skill atau kemampuan yang lebih untuk bekerja.
Apa yang dikatakan bahwa, tingkat inflasi ringan dapat menstimulus penyerapan tenaga kerja sesungguhnya hanya berlaku bagi mereka yang memang memiliki kemampuan atau skill. Sementara bagi mereka yang sedari awalnya sudah dalam kemiskinan, dimana dengan kemiskinan tersebut menyebabkan mereka tidak mampu meraih atau menempa keahliaannya, maka hal ini tidak berlaku. Dengan kata lain, inflasi ringan yang terjadi tetap akan sangat membebani bagi mereka yang tergolong miskin dan tidak memiliki keahlian.
Terlebih lagi ketika harga barang yang naik tersebut adalah harga barang kebutuhan pokok masyakarat, meskipun kenaikan harga yang terjadi adalah rendah tetap saja akan menambah beban masyarakat miskin.
Sebagai contoh, katakan saja misalnya seorang kepala keluarga (dengan tanggungan 1 anak dan 1 istri) dimana penghasilan perbulan yang dapat diraih Rp.1,5 juta per bulan. Dengan tingkat inflasi ringan sebasar 5%, maka ia harus menanggung beban inflasi sebesar Rp.75.000 per bulan. Tentu ini adalah jumlah yang cukup besar bagi kepala keluarga tersebut. Dengan demikian, anggapan bahwa, inflasi ringan dapat memberikan efek positif bagi perekonomian sesungguhnya tidaklah tepat. Karena hanya menguntungkan pihak tertentu saja.
Adapun dilihat dari sisi produsen, seolah-olah menganggap produsen dalam berproduksi hanyalah bermotifkan pada orientasi keuntungan (profit oriented) semata. Padahal, seorang produsen (khususnya bagi seorang mulsim) tidaklah semata-mata menjalankan aktivitas produksinya berdasarkan motif dan orientasi keuntungan. Melainkan juga dapat bermotif rasa kemanusiaan (insaniyyah) dan atau ruhiyah (ketuhanan).
Lebih dari itu, para ekonom sebenarnya juga berpendapat bahwa, kenaikan harga barang baik itu dalam kisaran besar maupun kecil tetap saja menimbulkan biaya. Biaya-biaya tersebut misalnya adalah shoe leather cost, menu cost (misal, biaya perubahan katalog), complaint and oppotunity loss cost (biaya kompalin dan hilangnya kesempatan), biaya perubahan peraturan dan perundang-undangan, serta biaya ketidaknyamanan hidup.
Penutup
Masihkah Berharap dan Percaya Kepada Kapitalisme???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: