Oleh: darmawanachmad | 11 April 2010

Capital Flight Dan Utang Luar Negeri

Hal utama dan pertama yang perlu dilakukan oleh tim ekonomi nasional Indonesia adalah memulihkan ekonomi (economic recovery) secara menyeluruh. Dengan demikian, faktor-faktor yang dapat menggerakan roda ekonomi, seperti ekspor-impor, penanaman modal asing, penguatan sektor indutri dan perdagangan serta membuka lapangan usaha dan lapangan kerja seluas-luasnya, perlu mendapat prioritas. Kondisi ini akan berjalan dengan lancar apabila dalam pemerintahan yang baru ini keadaan keamanan dan politik stabil. Stabilitas dan keamanan inilah yang menjadi pokok pangkal berjalannya roda perekonomian tersebut.
Pemulihan ekonomi Indonesia yang sudah babak-belur ini sesungguhnya sudah merupakan suatu keniscayaan. Dengan kuatnya sektor perekonomian, secara otomatis akan mendukung kuatnya sektor-sektor lain. Sebaliknya, lemahnya sektor perekonomian akan berakibat melemahnya sektor-sektor non ekonomi. Aksioma ini berlaku bagi seluruh wilayah atau negara di jagat ini. Oleh karena itu, setiap pemerintahan berganti faktor perekonomian selalu menjadi kunci utama yang menjadi ukuran sukses tidaknya kepemimpinan suatu pemerintahan.
Dalam rangka pemulihan ekonomi ini, tampaknya pemerintah harus mengembalikan kepercayaan kepada para investor yang selama ini telah melakukan relokasi usahanya ke berbagai tempat di luar Indonesia. Bahkan, para pengusaha Indonesia yang selama ini banyak memarkirkan dananya alias melarikan modalnya (capital flight) ke laur negeri, diimbau agar segera menariknya kembali demi kelangsungan economic recovery yang akan dijalankan secara all out.
Catatan terakhir yang banyak diekspos media, telah terjadi pelarian modal sebesar 40 miliar dolar AS sejak krisis tahun 1997. Rinciannya, per tahunnya telah terjadi capital flight sebesar 10 miliar dollar AS. Sebuah angka yang sangat fantastis bagi negara yang sedang membutuhkan banyak asupan dana dari berbagai sumber.
Dalam hal pelarian modal, sesungguhnya merupakan hal yang wajar dalam sistem perekonomian yang terbuka seperti Indonesia ini, sehingga sebenarnya tidak perlu dipersoalkan atau dibesar-besarkan. Alasannya, pada akhirnya pelarian modal ini akan menguntungkan ekonomi nasional kita dalam bentuk repatriasi keuntungan ke dalam negeri. Investasi yang terkait dengan produk ekspor kita akan meningkatkan volume ekspor, dengan adanya investasi di negara asing yang selama ini mengimpor produk-produk dari Indonesia.
Pada sisi lain sesungguhnya pelarian modal dari negara yang kekurangan modal (capital defisit country) seperti Indonesia, akan memperparah posisi neraca pembayaran. Pelarian modal memperbesar pos kredit dalam perkiraan modal neraca pembayaran, yang jika tidak diimbangi oleh aliran masuk modal yang mengimbangi tambahan nilai pos kredit, akan menyebabkan makin terakumulasinya volume utang luar negeri. Akumulasi volume utang luar negeri ini akan bertambah intensif, jika penarikan modal terjadi dalam situasi adanya defisit yang relatif tinggi dalam transaksi berjalan (current trasaction). Sehingga pada akhirnya, utang luar negeri yang masuk bukan hanya digunakan untuk membiayai defisit dalam transaksi berjalan, tetapi juga digunakan untuk membiayai pelarian modal.
Studi Empiris
Beberapa penemuan dari hasil studi empiris membuktikan bahwa naiknya akumulasi utang luar negeri di banyak negara berkembang, secara signifikan disebabkan oleh adanya pelarian modal. Coba saja simak hasil studi yang dilakukan oleh Morgan Guaranty Company (1986) terhadap 18 negara berkembang — Indonesia termasuk di dalamnya — menunjukkan bahwa selama periode penelitian (1975-1986) telah teradi pelarian modal dari negara-negara ini sebesar 198 miliar dolar AS, yang diiringi dengan peningkatan utang luar negeri negara-negara ini sebesar 451 miliar dolar AS.
Menurut hasil penelitian Manual Pastor (1990), kondisi capital flight di Amerika Latin telah mengakibatkan penambahan sebesar 40 persen utang luar negeri, guna membiayai pelarian modal sebesar 151 miliar dolar AS.
Penelitian yang dilakukan James K Boyce (1992) terhadap pelarian modal di Pilipina, menemukan bahwa pada periode tahun 1962-1986, ada pengaruh yang sangat signifikan antara pelarian modal dengan peningkatan utang luar negeri. Nilai riil modal yang lari dari Pilipina waktu itu adalah 13,5 miliar dolar AS atau sekitar 48 persen dari nilai utang luar negeri Pilipina tahun 1986.
Bagaimana dengan Indonesia? Hal yang sama tampaknya juga dialami oleh Indonesia. Berdasarkan hasil riset Mubarik Ahmad (1992) dari PAU bidang ilmu Ekonomi, Universitas Indonesia, ternyata pada periode 1970-1980 secara akumulatif telah terjadi pertambahan utang luar megeri Indonesia sebesar 18,46 miliar dolar AS, di mana 9,4 miliar di antaranya digunakan untuk pelarian modal. Selama periode 1988-1991, dari 26,6 miliar dolar AS utang luar negeri Indonesia, sebesar 11,17 miliar dolar AS atau sekitar 42 persen dari pertambahan nilai utang luar negeri itu digunakan untuk membiayai pelarian modal.
Sayangnya, data terbaru dampak pelarian modal bagi perekonomian Indonesia yang nyaris bangkrut ini belum tersedia. Sungguh pun demikian, dari 40 miliar dolar AS capital flight yang dilakukan selama peride 1997-2001 – berdasarka asumsi penelitian yang lalu — tampaknya tak kurang dari 10-12 miliar dolar AS atau sekitar 43-45 persen dari pertambahan nilai utang luar negeri itu digunakan untuk membiayai pelarian modal. Bahkan mungkin bias lebih besar lagi.
Penggembosan Ekonomi

Berdasarkan penentuan studi empiris di atas, sulit untuk mengatakan bahwa pelarian modal itu akan menguntungkan perekonomian Indonesia. Pelarian modal, apalagi bagi negara Indonesia yang utang luar negerinya terus membengkak, sehingga negara terus-menerus mengalami defisit bahkan nyaris bangkrut, sangat bersifat destruktif bagi perekonomian nasional.
Destruktif karena pelarian modal akan membatasi potensi pertumbuhan (growth cost) ekonomi nasional. Modal yang dilarikan ke luar negeri tidak memberikan kontribusi sama sekali terhadap investasi domestik, yang diperlukan untuk membiayai pertumbuhan ekonomi. Tidak ada bukti yang kuat bahwa telah terjadi repatriasi keuntungan investasi yang dilakukan di luar negeri ke dalam negara-negara berkembang, yang mengalami pelarian modal. Modal yang dilarikan ke luar negeri, menimbulkan dampak negatif terhadap tersedianya devisa yang dibutuhkan untuk mengimpor input-input yang diperlukan untuk menopang produksi domestik. Dalam hal itu termasuk produksi domestik yang menghasilkan barang-barang ekspor, untuk memperoleh devisa yang pada perkembangan selanjutnya digunakan untuk membiayai impor yang diperlukan.
Dalam pelarian modal ini terjadi pengurangan stok kekayaan (stock of wealth) dan sumber pendapatan dalam sistem ekonomi. Hal ini berarti bahwa pelarian modal menimbulkan erosi dalam basis pajak (erosion of tax base). Kondisi ini terutama dihadapi oleh negara-negara berkembang yang menganut origin sistem bukan prinsip residence system dalam perpajakannya. Akibat menyusutnya basis perpajakan langsung, maka banyak negara berkembang terpaksa mengandalkan apa yang disebut inflation tax atau pajak-pajak yang mudah dihimpun seperti value-added tax. Ironisnya, beban kedua jenis pajak ini sebagian besar menimpa golongan pendudk yang berpenghasilan rendah.
Pelarian modal dapat mengakibatkan kontribusi pendapatan yang tidak adil. Jelas hal ini akan menimbulkan konsekuensi negatif terhadap distribusi pendapatan. Hal ini disebabkan oleh akibat pelarian modal yang dibiayai utang luar negeri yang bertambah. Alhasil, rakyat menjadi penanggung beban utang, sementara pihak-pihak yang melarikan modal dan mempertahankan asetnya di luar negeri terbebas dari kewajiban pembayaran beban utang tidak wajar, dengan rakyat banyak sebagai pemikul beban utama. Proses sosialisasi beban utang luar negeri ini dibarengi dengan proses privatisasi pemupukan aset di luar negeri.

Kreatif
Indikasi telah terjadinya pelarian modal hendaknya disikapi, bukan hanya sebagai wacana saja. Perlu dicarikan solusi agar pelarian modal yang terjadi itu tidak sampai menggoyahkan sendi-sendi ekonomi yang memang sudah payah untuk terus-menerus disokong oleh berbagai bantuan luar negeri. Badan moneter internasional semacam IMF sudah cukup sadar akan pelarian modal yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, IMF merekomendasikan paket kebijaksanaan yang terdiri dari devaluasi, pengurangan subsidi, penetapan tingkat suku bunga yang tinggi, penekanan tingkat upah, sampai mempertahankan rejim devisa bebas.
Ironisnya, paket devaluasi yang ditawarkan ternyata mendorong pelarian modal secara besar-besaran karena pemilik aset di dalam negeri ingin mempertahankan atau yang lebih ekstrim lagi mempertinggi nilai aset yang dimiliki.
Pengurangan subsidi yang dimasksudkan untuk mengurangi atau mencegah laju inflasi, justru mendorong terjadinya laju inflasi. Tingkat suku bunga yang tinggi ternyata mengganggu iklim investasi domestik. Dan paket rejim devisa bebas malah mendorong terjadinya pelarian modal secara besar-besaran.
Apakah kita sebagai bangsa yang berdaulat akan terus-menerus menjadi “tawanan” IMF? Kita dapat melihat betapa kebijaksanaan yang ditawarkan IMF ternyata tidak bijaksana. Untuk menghadapi hal ini, sangat diperlukan pemikiran yang kreatif agar dapat keluar dari kemelut yang berkepanjangan ini. Dan sekaligus membebaskan diri dari “tawanan” IMF.
Tugas ini merupakan “PR” bagi pemerintah baru beserta kabinet “Gotong Royong” yang mendukungnya. Tanpa adanya kreativitas yang cerdas, Indonesia akan terus berada dalam kondisi perekonomian yang memprihatinkan. Kreativitas yang didukung dengan pemikiran yang cemerlang akan membawa bangsa Indonesia keluar dari kemelut ekonomi yang berkepanjangan ini. Pintar saja belum cukup, bila tidak kreatif dalam menggunakan kepintaran yang dimiliki. Kita tunggu hasilnya. ***

Penulis : Drs Nurhanafiansyah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: