Oleh: darmawanachmad | 8 Mei 2010

Merger & Akuisisi

Latar Belakang Merger & Akuisisi.

Tujuan umum perusahaan adalah memaksimum nilai kekayaan pemegang saham, Dalam rangka meraih sasran tersebut perusahan melakukan ekspansi bisnis dengan berbagai cara, salah satu cara untuk mencapai pertumbuhan dari dalam perusahaan (internal growth), dan pertumbuhan dari luar perusahan (external growt).
Pertumbuhan internal adalah ekspansi yang dilakukan dengan membangun unit bisnis baru dari awal ( start-ups business ). Jalur ini memerlukan berbagai pertahapan mulai dari riset pasar, desain produk, perekrutan tenaga ahli, tes pasar, pengadaan dan pembangunan fasilitas produksi/ operasi sebelum perusahaan menjual produknya ke pasar. Sebaliknya pertumbuhan eksternal dilakukan dengan membeli perusahaan yang sudah ada. Merger dan Akuisisi adalah strategi pertumbuhan eksternal dan merupakan jalur cepat untuk mengakses pasar baru produk baru tanpa harus membangun dari awal. Terdapat penghematan waktu yang sangat signifikan antara pertumbuhan internal dan eksternal melalui Merger dan Akuisis. Dari waktu ke waktu perusahaan lebih menyukai pertumbuhan eksternal melalui Merger dan Akuisisi dibanding pertumbuhan internal.
Aktifitas Merger dan Akuisisi semakin meningkat seiring dengan intensnya perkembangan ekonomi yang mengglobal. Di Indonesia Merger dan Akuisisi menunjukan skala peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1980 dilakukan oleh bank-bank dengan harapan agar dapat memperkuat struktur modal dan memperoleh keringanan pajak. Sementara di negara-negara maju seperti Amerika, Kanada dan Eropa Barat, fenomena Merger dan Akuisisi sudah menjadi pemandangan bisnis yang biasa. Dalam konteks keilmuan Akuisisi bisa didekati dari dua perspektif yaitu dari disiplin keuangan perusahaan (corporate finance) dan dari menajemen strategi (strategic menagement) dari kedua sisi keuangan perusahaan, Akuisisi adalah salah satu bentuk keputusan investasi jangka panjang ( penganggaran modal / capital budgeting) yang harus diinvestigasi dan dianalisis dari aspek kelayakan bisnisnya. Sementara itu dari perspektif menajemen strategi Merger dan akuisisi adalah salah satu alternatif strategi pertumbuhan melalui jalur eksternal untuk mencapai tujuan perusahan. Dilihat dari kedua perspektif ini maka tujuan Akuisisi tidak lain adalah keunggulan kompetitif perusaha jangka panjang yang pada gilirannya dapat meningkatkan nilai perusahaan atau memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. Namun jika strategi ini tidak mampu mewujudkan tujuan normatif tersebut berarti Merger dan Akuisisi akan menjadi Counter-productive. Dengan kata lain Merger dan Akuisisi bukan berdampak positif pada peningkatan kemakmuran pemilik perusahaan, tetapi yang terjadi justru membawa perusahaan ketepi kehancuran. Dengan demikian tujuan normatif ini dikorbankan justru oleh keputusan Merger dan akuisisi itu sendiri. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat masih tingginya angka kegagalan Merger dan Akuisisi sehingga diperlukan rencana dan langkah-langkah yang strategis dan matang agar terhindar dari kegagalan.
Penggabungan usaha dapat dilakukan dengan berbagai cara yang didasarkan ada pertimbangan hukum,perpajakan, atau alasan lainnya. Di Indonesia didorong oleh semakin besarnya pasar modal, transaksi Merger dan Akuisisi semakin banyak dikakukan. Bentuk-bentuk penggabungan usaha antara lain melalui Merger dan Akuisisi selain kedua bentuk tersebut masih ada bentuk- bentuk penggabungan usaha lainnya yaitu konsolidasi. Dari ketiga kelompok tersebut yang banyak berkembang di Indonesia adalah Merger dan Akuisis. Di Indonesia praktek Akuisisi umumnya dilakukan oleh satu grup (Internal Acquition) khusus pada perusahaan yang Go Publik. Merger dan Akuisisi ini telah berkembang menjadi tren beberapa perusahaan.
Alasan perusahaan melakukan Merger dan Akuisisi adalah untuk memperoleh sinergi, strategic opportunities, meningkatkan efektifitas dan mengeksploitasi mis-pricing di pasar modal (foster 1994). Pada umumnya tujuan dilakukannya Merger dan Akuisisi adalah mendapatkan sinergi atau nilai tambah. Keputusan untuk Merger dan Akuisisi bukan sekedar menjadikan dua ditambah dua menjadi empat tetapi Merger dan Akuisisi harus menjadikan dua ditambah dua menjadi lima dan seterusnya.
Akuisisi (acquisition) adalah suatu bentuk penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan yaitu pengakuisisi (acquirer) memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi perusahaan yang diakuisisi (acquiree) dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban atau mengeluarkan saham.
Merger adalah penggabungan dua atau lebih perusahaan yang kemudian hanya ada satu perusahaan yang tetap hidup sebagai badan hukum, sementara yang lainnya menghentikan aktivitasya atau bubar.
Perubahan-perubahan yang terjadi setelah perusahan melakukan Akuisisi biasanya akan tampak pada kinerja perusahaan dan penampilan finansial perubahan yang praktis membesar dan meningkat pada laporan konsolidasi pasca Akuisisi kondisi dan posisi keuangan perusahaan mengalami perubahan dan hal ini tercermin dalam laporan keuangan perusahaan yang melakukan Merger dan Akuisisi. Seperti diuraikan diatas perusahaan melakukan Akuisisi perusahaan didasari pada motivasi mencapai sinergi. dimana manfaat ekstra sinergi ini tidak bisa diperoleh seandainya perusahaan tersebut bekerja secara terpisah, dan untuk ekspansi bisnis dimana nantinya diharapkan akan mampu menaikan nilai perusahaan terutama bagi perusahan yang listed di Bursa Saham.
Pada prinsipnya terdapat dua motif yang mendorong sebuah perusahaan melakukan Merger dan Akuisisi yaitu motif ekonomi dan motif non ekonomi. motif ekonomi berkaitan dengan esensi tujuan perusahaan yaitu untuk meningkatkan nilai perusahaan atau memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. Termasuk motif ekonomi adalah motif untuk mencapai sinergi dan motif untuk mencapai posisi strategi. Motif strategi dimaksudkan untuk membangun keunggulan kompetitif jangka panjang perusahaan yang pada akhirnya bermuara kepada peningkatan nilai perusahaan atau peningkatan kemakmuran pemegang saham. Di sisi lain motif non ekonomi adalah motif yang bukan didasarkan pada esensi tujuan perusahaan tersebut, tetapi didasarkan pada keinginan subjektif atau ambisi pribadi pemilik atau menajemen perusahaan. Hanya alasan yang bersifat ekonomis dan rasional yang bisa diterima sehingga aktivitas Merger dan Akuisisi bisa di pertanggung jawabkan. Mark L. Sirower dalam bukunya Synergy Trap sinergi harus dipahami bahwa hasil riil atau manfaat ekstra tersebut harus jelas dan terukur.
Dasar logika dari pengukuran berdasar akuntansi adalah bahwa jika ”size” bertambah besar ditambah dengan sinergi yang dihasilkan dari gabungan aktivitas-aktivitas yang simultan, maka laba perusahaan juga semakin meningkat. Oleh karena itu kinerja perusahaan pasca Merger seharusnya semakin baik dibandingkan dengan sebelum Merger dan Akuisisi.
Jakarta, 17 Februari 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: