Manajemen Hedging

Manajemen Hedging
Transaksi Swap

Swap contract merupakan transaksi antara dua belah pihak yang sepakat untuk saling menukarkan arus kas (cash flow) di masa yang akan datang berdasarkan suatu kesepakatan tertentu yg ditetapkan pada saat kontrak dibuat.
Transaksi swap biasanya dilakukan oleh bank yang bisa berperan sebagai perantara atau sebagai lawan transaksi.
Swap biasanya dibuat berdasarkan kondisi yang diinginkan dan tidak mempunyai bentuk yang baku (tidak distandarisasi), sehingga transaksi swap merupakan transaksi di luar bursa (OTC).
Dua bentuk swap contract yang utama adalah yang berbasis interest-rate swaps dan currency swaps

Interest Rate Swap
Interest rate swap pada dasarnya merupakan suatu persetujuan antara dua pihak untuk menukarkan pembayaran bunga untuk suatu periode tertentu atas dasar suatu notional value yang disetujui bersama dan dicirikan, sebagai tujuan utamanya, oleh konversi pembayaran bunga tetap (fixed rate) ke dalam pembayaran bunga mengambang (floating rate).

Contoh Interest Rate Swap
PT X meminjam uang Rp. 100 Juta kepada Bank B dengan tingkat suku bunga mengambang (misalnya LIBOR + 1) per tahun.
Untuk mengantisipasi adanya perubahan tingkat suku bunga di masa yang akan datang, PT X melakukan kontrak interest rate swap dengan suku bunga tetap sebesar 7% kepada Bank B.
Bila suku bunga LIBOR sebesar 7%, maka tingkat suku bunga mengambang menjadi 7% + 1% = 8%, PT X tetap membayar bunga sebesar 7%, dengan demikian terdapat keuntungan sebesar 8% – 7% = 1%.
Bila suku bunga LIBOR menjadi 5%, maka tingkat suku bunga mengambang menjadi 5% + 1% = 6%, dengan demikian PT X menderita rugi sebesar 7% – 6% = 1%.
Currency Swap
Suatu perjanjian yang memungkinkan perusahaan-perusahaan mengakses pasar modal dengan biaya yang lebih murah dan/atau untuk meng-hedge

Contoh Currency Swap
Alpha Corp yang berbasis di USA ingin mendapatkan hutang berbunga tetap $ 10,000,000 dalam pound Inggris untuk perusahaan afiliasinya di London. Tetapi, Alpha tidak begitu dikenal oleh para investor Inggris.
Beta Company, Ltd, yang berdomisili di Inggris, ingin mendanai perusahaan anaknya di New York dengan jumlah pembiayaan yang sama dalam dolar. Beta juga memiliki comparative dis-advantage bagi pemodal AS. D
Gamma Bank, mengakomodasi kedua perusahaan dengan merancang swap dolar AS/pound Inggris.Jika kurs swap adalah US $ 1 = 0,55 pound (baik saat insepsi maupun saat jatuh tempo), jangka waktu 5 tahun, dan suku bunga swap 10% dalam pound dan 8% dalam dolar.
Pada saat insepsi Alpha Corp akan menukarkan $ 10,000,000 untuk 5,500,000 pound dari Beta Company, Ltd.
Pada saat pembayaran bunga, Alpha akan membayar 550,000 pound kepada Beta tiap tahun, sedangkan Beta akan membayar Alpha $ 800,000.
Pada saat jatuh tempo yaitu akhir tahun ke-5, tiap perusahaan akan menukarkan kembali prinsipal sebesar $ 10,000,000 dan 5,500,000 pound, exposure terhadap risiko nilai tukar yang timbul dari operasi bisnis internasional.

Contoh Forward
PT X pada tanggal 1 Mei 2009 menutup kontrak forward purchased sebesar US $ 100,000 untuk waktu 90 hari dengan spot rate jual Rp 8.900 per 1 dolar dan premi 10%.
Besarnya premi per US $ : (Rp 8.900 X 90 X 10%): 360 = Rp 222,50
Dengan premi sebesar Rp 222,50 per 1 dolar Amerika maka forward ratenya adalah Rp 8.900 + Rp 222,50 = Rp 9.122,50 per 1 dolar Amerika.
Bila pada akhir masa kontrak nilai tukar US $ 1 = Rp 9.300 maka akan terdapat keuntungan bersih beda kurs sebesar Rp 17.750.000 ((Rp 9.300 – Rp 9.122,50) X US $ 100,000).
Bila nilai tukar akhir lebih kecil dari forward rate maka PT X akan menderita kerugian.

Option
Option merupakan kontrak yang memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang opsi untuk membeli (call option) atau menjual (put option) suatu aset dasar (underlying asset) pada harga tertentu yang telah ditetapkan pada saat kontrak (strike/exercise price) pada atau sebelum tanggal tertentu (expiration date/strike date) atas penyerahan suatu aset dasar.
Kontrak-kontrak opsi bisa melibatkan saham biasa, komoditas-komoditas seperti emas atau perak, instrumen-instrumen keuangan seperti treasury bill, obligasi dan sertifikat deposito (disebut interest rate option), indeks-indeks saham, valuta-valuta asing dan instrumen-instrumen keuangan lainnya.
Option contract dapat berbentuk currency option dan interest rate option.

Call Option
Pembeli call option mempunyai hak untuk membeli aset dengan harga tertentu sebelum akhir periode option contract.
Pembeli call option membayar premium bagi opsi tersebut namun akan memperoleh keuntungan apabila harga aktiva yang mendasarinya melebihi strike price pada saat jatuh tempo
Penerbit call option berkewajiban untuk menjual suatu aset apabila pemegang call option menggunakan haknya untuk membeli aset tersebut.
Penerbit call option akan mengalami kerugian apabila harga suatu aset lebih besar daripada strike price, karena menjual aset dengan harga lebih rendah daripada harga pasarnya.

Put Option
Pembeli put option mempunyai hak untuk menjual suatu aset dengan harga tertentu selama atau pada akhir periode option contract.
Pembeli put option akan memperoleh keuntungan bila harga aktiva jatuh di bawah strike price pada expiration date, karena pembeli put option dapat menjual suatu aset dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga pasarnya.
Posisi penerbit put option berlawanan dengan posisi pembeli put option. Penerbit put option mempunyai kewajiban untuk membeli suatu aset apabila pembeli put option menggunakan haknya untuk menjual suatu aset.
Penerbit put option akan mengalami kerugian apabila harga suatu aset lebih rendah daripada strike price-nya, karena penerbit put option harus membeli suatu aset dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga pasarnya.
Perhitungan Objek PPh dari Transaksi SWAP
– SWAP adalah transaksi pertukaran dua valas melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka, atau penjualan tunai dengan pembelian kembali secara berjangka. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kepastian kurs (kurs bersifat tetap selama kontrak), sehingga dapat menghindari keugian selisih kurs.
– Menurut ketentuan fiskal, SWAP menghasilkan keuntungan/kerugian bagi wajib pajak pada saat terjadinya realisasi pembayaran (jatuh tempo).
– Contoh :
– Pada tanggal 1 Feb 2009, PT Zaki menerima pinjaman dari luar negeri sebesar USD 10,000, dengan jangka waktu 1 tahun, bunga 9 % per tahun. Spot rate USD 1 adalah Rp 9.000,00.
– Selanjutnya, PT Zaki membuka kontrak SWAP dengan bank devisa jangka waktu 12 bulan dengan premi 10% atau sebesar = (Rp 9.000,00 x 360 x 10)/(360 x 100) = Rp 900,00.
– Apabila pada tanggal 1 Feb 2010 terjadi realisasi, maka keugian selisih kurs yang terjadi adalah :
Penjualan devisa tanggal 1 Feb 2009 = 10,000 x Rp 9.000 = Rp 90.000.000,00
Pembelian devisa tanggal 1 Feb 2010 = 10,000 x Rp 9.900 = Rp 99.000.000,00
_____________________
Kerugian selisih kurs = Rp 9.000.000,00

Prinsip Pemajakan
Transaksi Derivatif
Prinsip Realisasi (Realization Principle)
Keuntungan atau kerugian dari transaksi derivatif dicatat pada saat terjadinya realisasi, dengan demikian pemajakan atas transaksi derivatif dilakukan pada saat penyelesaian transaksi atau saat berakhirnya masa kontrak transaksi derivatif.
Prinsip Harga Pasar (Mark-to-market Principle)
Transaksi derivatif akan dinilai berdasarkan harga pasar pada setiap akhir periode tahun buku. Sehingga, pemajakan dilakukan bersamaan dengan pengakuan penghasilan atau kerugian transaksi derivatif yang dilaporkan pada tahun buku tersebut.
Prinsip Penyesuaian (Matching Principle)
Pengakuan penghasilan atau kerugian dari transaksi derivatif disesuaikan dengan pengakuan penghasilan atau kerugian dari aset dasar (underlying asset) yang dilindungi nilai. Sesuai dengan prinsip ini, jika instrumen derivatif digunakan untuk memberikan lindung nilai maka pengakuan laba rugi derivatif tersebut menggunakan prinsip realisasi.

Pemajakan Transaksi Derivatif
Sesuai dengan Penjelasan Pasal 4 ayat 1 UU PPh ( Undang-undang No.17 Tahun 2000 Tentang Pajak Penghasilan) menganut prinsip pemajakan atas penghasilan dalam pengertian luas yaitu: Pajak dikenakan atas setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dari manapun asalnya yang dapat dipergunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak.
UU PPh tidak mengatur secara khusus mengenai perlakuan perpajakan atas penghasilan dari transaksi derivatif. Tetapi karena penghasilan dari transaksi derivatif memenuhi pengertian penghasilan sesuai Pasal 4 ayat 1 UU PPh, maka penghasilan dari transaksi derivatif dikenakan pajak penghasilan. Sedangkan saat pengakuan penghasilan dari transaksi derivatif adalah saat realisasi (realization principle)

Jakarta, 28 Agustus 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: